Inovasi “Si Peka Bu Siska” Dikes Lobar Masuk Nominasi Nasional dan Jadi Percontohan

66
Persiapan penilaian inovasi Dikes Lobar "Si Peka Bu Siska" yang masuk nominasi nasional. (Inside Lombok/Istimewa)

Lombok Barat (Inside Lombok) – Sistem pemantauan kesehatan bayi baru lahir berbasis keluarga (Si Peka Bu Siska) dari Dinas Kesehatan (Dikes) Lobar masuk 99 besar nominasi kompetisi tingkat nasional. Inovasi ini dinilai sangat penting bagi perkembangan bayi baru lahir.

Sekda Lobar, H. Baehaqi mengatakan sejak Si Peka Bu Siska diterapkan jumlah kematian bayi di Lobar mengalami penurunan. Hal ini disebutnya dapat menjadi inovasi yang baik dan penting dalam mendukung program bayi sehat, termasuk untuk mencegah stunting.

“Tentu inovasi ini sangat baik dan Pemerintah Daerah menjadikan ini sebagai inovasi yang penting dalam menjaga kesehatan bayi baru lahir,” ujarnya saat ditemui ketika gladi persiapan penilaian presentasi kompetisi inovasi pelayanan publik tingkat nasional yang diselenggarakan Menpan RB.

Pemda disebut sangat mendukung inovasi dari Dikes Lobar itu. Antara lain terlihat dari sejumlah regulasi dan anggaran yang dikucurkan untuk melaksanakan program tersebut. Kebanggaan tersendiri, bahwa program Si Peka Bu Siska juga menjadi percontohan di NTB dan Indonesia.

“Pemerintah daerah mendukung penuh inovasi ini sebagai salah satu terobosan dan inovasi untuk mengurangi dan menekan stunting di Lombok Barat,” imbuh Baehaqi.

Semenatra itu, Kepala Dikes Lobar, Arief Suryawirawan mengungkapkan bahwa “Si Peka Bu Siska” sudah menjadi inovasi Lobar dan dijadikan langkah baku pada pelayanan bayi baru lahir. “Tujuan inovasi ini guna mempercepat penemuan masalah pada kesehatan neonatal (bayi baru lahir usia 0-28 hari) dengan memberdayakan keluarga untuk mempercepat akses ke pelayanan kesehatan,” jelasnya.

Sistem ini bermanfaat untuk meningkatkan kepedulian ibu dan keluarga memantau kesehatan bayi secara berkesinambungan. Di era pandemi Covid-19, bayi tetap dapat dipantau kesehatannya tanpa sering dibawa ke fasilitas kesehatan bila tidak dalam kondisi gawat darurat untuk menghindari transmisi virus.

“Dengan meningkatnya penemuan kasus komplikasi oleh masyarakat secara dini, inovasi ini berpotensi menyelamatkan 13. 400 bayi baru lahir per tahun dari risiko kematian di Lobar,” papar dia.

Sistem ini, diakuinya memungkinkan pemantauan 24 jam oleh ibu selama 30 hari pertama kehidupan. Di mana pelaksanaannya dibantu dengan format sederhana yang disertai dengan gambar dan uraian tentang kondisi bayinya secara komprehensif dengan mengacu pada informasi yang terdapat di buku KIA yang dimiliki.

“Tahap awal sistem ini telah diuji cobakan di dua desa, Kuripan dan Gerung Utara pada akhir tahun 2019. Evaluasi sampai dengan Juni 2022, sebanyak 77,3 persen neonatal (bayi yang baru lahir 0-28 hari) mampu dipantau melalui inovasi ini dengan tingkat kepatuhan 82,7 persen,” pungkasnya.

Arief juga mengatakan bahwa Keberhasilan inovasi ini telah diapresiasi oleh Kementerian Kesehatan (KemenKes) RI dan formatnya diadopsi sebagai lampiran Buku KIA versi baru. Hal ini berlaku untuk seluruh wilayah di Indonesia.

Dikes provinsi NTB pun telah mendukung pencetakan format buku ini untuk didistribusikan ke seluruh kabupaten/kota di NTB. Dengan diadopsinya inovasi ini oleh Kemenkes RI maka keberlanjutan implementasinya akan dipertahankan bahkan direplikasi di seluruh wilayah Indonesia.

“Tentunya inovasi ini akan menjadi salah satu terobosan penting dan kebanggaan Lobar di tingkat Nasional,” jelasnya.

Hasil penilaian kompetisi itu pun akan menentukan masuk tidaknya Si Peka Bu Siska dalam daftar nominasi 45 besar nasional dan berhak atas dana insentif senilai Rp6 miliar dalam bentuk anggaran pembangunan kesehatan. (yud)