Jepang hingga Belanda, Tenaga Kesehatan Indonesia Dilirik Banyak Negara

55
Ilustrasi tenaga kesehatan (Image source : mitrapol)

Mataram (Inside Lombok) – Sejumlah negara di dunia masih membutuhkan tenaga kesehatan dari Indonesia. Pemerintah Indonesia pun telah menjalin kerjasama dengan pemerintah luar negeri di beberapa negara untuk mengisi kebutuhan tersebut.

Penempatan tenaga kesehatan di luar negeri juga menjadi salah satu cara memaksimalkan penyerapan SDM kesehatan yang ada. Terlebih Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia (KTKI) mencatat pada 2020 saja, ada 633.025 perawat aktif secara STR. Jumlah ini secara kumulatif diproyeksikan menjadi 696.217 orang pada 2025.

Untuk itu, kerjasama dengan beberapa negara terkait penempatan tenaga kesehatan Indonesia diharapkan dapat menyerap surplus tenaga kesehatan yang ada. drs. Ahmad Syahrudin, M.Si, dari Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menyebut salah satu kerjasama yang telah dijalin adalah antara Pemerintah Indonesia dengan Jepang.

Kerjasama telah dimulai sejak 2007 melalui penandatangan perjanjian Indonesia Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA). Ada dua jenis tenaga kesehatan yang dibutuhkan Jepang, yaitu perawat dan caregiver.

Salah satu persyaratan menjadi perawat di Jepang, antara lain calon pekerja wajib lulus tes ujian nasional dan diberi kesempatan ujian nasional sebanyak 3 kali dalam masa kontraknya. ”Sama halnya dengan program penempatan perawat Indonesia ke Jerman, para kandidat wajib lulus uji kompetensi, ujian nasional, dan persyaratan lainnya. Selain itu, para kandidat juga harus mengikuti kursus Bahasa Jerman terlebih dahulu sebelum ujian,” ujarnya seperti dikutip dari rilis resmi Kementerian Kesehatan RI.

Saat ini, BP2MI tengah membuka pendaftaran dan seleksi perawat bagi program G to G (Government to Government) ke Jerman Batch II. Di mana informasi tentang pendaftaran dapat diakses pada tautan https://bp2mi.go.id/

Contoh lainnya, Kementerian Kesehatan memfasilitasi ketersediaan sejumlah perawat Indonesia untuk bekerja di Rumah Sakit Kementerian Kesehatan Arab Saudi melalui program mandiri. Menteri Kesehatan Arab Saudi mengusulkan agar program dimaksud dapat dilakukan secara berkesinambungan secara G to G atau antar pemerintah.

Proses interview dilaksanakan secara langsung oleh Kementerian Kesehatan Arab Saudi di Jakarta pada 2 Maret 2020 dengan difasilitasi Kementerian Kesehatan RI. Dari 43 perawat yang mengikuti wawancara, terdapat 17 perawat memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan oleh Kemenkes Kerajaan Arab Saudi.

Pengalaman lainnya juga yaitu pada tahun 2021, sebanyak lebih dari 160 orang perawat terpilih diberangkatkan ke Belanda untuk mengikuti program pendidikan dan pelatihan. Fase pelatihan bahasa dan budaya Belanda dilaksanakan sejak awal tahun 2020 untuk mempersiapkan perawat Indonesia yang akan diberangkatkan ke Belanda.

Dalam program tersebut, perawat Indonesia mengikuti kegiatan pre departure selama 6-8 bulan di Indonesia yang dilanjutkan dengan pendidikan dan magang selama 4 tahun. Proses tersebut dilakukan di institusi pendidikan dan fasilitas pelayanan kesehatan dengan pembiayaan sepenuhnya dari pihak Belanda.

Pada akhir program, perawat akan memperoleh gelar Bachelor of Nursing sebagai salah satu syarat memperoleh sertifikasi Registered Nurse Belanda. Sertifikasi ini dapat digunakan untuk bekerja di Uni Eropa.

Plt. Direktur Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan, Sugiyanto mengatakan pendayagunaan tenaga kesehatan ke luar negeri akan mampu meningkatkan profesionalisme yang berdaya saing global.

”Hal ini mampu membuka lapangan kerja yang luas. Nantinya perawat tersebut diharapkan dapat menerapkan pengalaman dan kemampuan yang didapat selama di luar negeri untuk dapat memperkuat sistem kesehatan Indonesia,” ucap Sugiyanto. (r)