Kisah Rumenah: Kehilangan Rumah dan Sepeda yang Baru Dibeli untuk Cucu Tercinta Saat Banjir

424
Kondisi rumah Rumenah, di dusun Medas Bedugul, desa Taman Sari, kecamatan Gunungsari yang pondasinya pun nyaris tak bersisa. Rabu (08/12/2021). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur'ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Ibu Rumenah, perempuan paruh baya asal Dusun Medas Bedugul, Desa Taman Sari, Kecamatan Gunungsari meratapi rumahnya yang telah hanyut terbawa banjir bandang, Senin (6/12) lalu. Kini yang tersisa hanya puing dan pondasi rumah yang sebagiannya sudah hilang. Haru nampak jelas di wajahnya saat mendapati jendela hingga pintu rumahnya sudah tidak ada lagi di sana.

Ia termenung, mengenang peristiwa banjir bandang yang tiba-tiba datang pada Senin pagi. Banjir itu tidak hanya meluluhlantakkan rumahnya. Tetapi juga menghanyutkan sepeda bekas yang baru saja dibelinya untuk cucu tercinta. Sepeda yang belum sempat ia berikan, dan sekarang tinggal cerita.

“Cucu saya umur dua tahun, ada sepeda saya beliin dia di ini dah di (tempat) rongsokan. Baru pas anak saya mau mengambil sepeda itu, rumah langsung jebol dibawa air,” tuturnya haru saat ditemui di lokasi rumahnya yang telah menjadi puing, Rabu (08/12/2021).

“Jadi, dia gak jadi bisa ngambil, karena sepeda itu hanyut sudah,” imbuhnya.

Rumenah menuturkan, saat air bah datang pagi itu ia sedang menanak nasi. Belum juga nasi yang dimasaknya matang, ari bah telah datang bersama material longsor dari atas bukit. Ia dan suaminya yang sudah sama-sama renta sontak berusaha menyelamatkan diri.

“Orang-orang semua lari menyelamatkan diri. Barang-barang perabotan ini rusak semua sudah, kalau baju ada sebagian yang bisa diselamatkan,” ujarnya.

Hingga hari ketiga pasca-kejadian, ia mengaku sudah ada pihak yang datang untuk meninjau kondisi rumahnya yang sudah tidak lagi tersisa. Bahkan, Rabu sore ada pihak yang mengantarkan bantuan berupa beras, mie instan dan juga air minum kepada Rumanah dan suaminya. Termasuk para tetangga yang memberikan sarung dan mukena untuk bisa ia gunakan salat.

Kini Rumenah trauma untuk tinggal di bekas rumahnya dulu. Ia pun mengaku siap bila pemerintah nantinya akan merelokasi dirinya dan suami ke lokasi yang lebih aman.

Ia mengaku tidak memiliki lahan lain untuk mendirikan rumah. Sehingga untuk sementara waktu, terpaksa harus menumpang di rumah salah satu anaknya. “Harapannya sih biar kita dibantu sama pemerintah untuk mendirikan rumah. Tapi saya gak mau di sini lagi, sudah trauma,” ungkap Rumenah. (yud)