Merasa Diabaikan, Warga Duman Dasan Blokade Jalan yang Bertahun-Tahun Rusak

240
Kondisi jalan yang rusak parah, sehingga warga terpaksa memblokade untuk dapat perhatian pemerintah, Senin (26/09/2022) (Inside Lombok/Yudina)

Lombok Barat (Inside Lombok) – Warga Dusun Duman Dasan, Desa Duman, Kecamatan Lingsar lakukan aksi blokade jalan. Aksi itu sebagai bentuk protes terhadap Pemda Lobar yang sudah bertahun-tahun tak ada tanggapan terkait kondisi jalan sepanjang 2,5 kilometer (km) yang rusak parah di dusun tersebut.

Padahal, jalan itu menjadi akses utama menuju sekolah dasar tempat belajarnya anak-anak dari beberapa dusun di desa itu. Bahkan, warga yang juga berkegiatan banyak yang terjatuh akibat kondisi jalan yang rusak bertahun-tahun.

Tidak sampai di sana, kondisi jalan yang rusak sempat menyebabkan warga yang sedang hamil keguguran, lantaran terpaksa harus melalui jalan itu demi melaksanakan kegiatannya saat usia kandungan masih muda.

“Kami tidak bisa membendung warga, terutama warga Dusun Duman Dasan, Dusun Dasan Bat, Dusun Duman Utara. Karena 2019 jalan ini sudah pernah dijanjikan (untuk diperbaiki),” kata Kades Duman, Suhardi saat ditemui di lokasi, Senin (26/09/2022).

Pada 2019, lanjutnya, Bupati Lobar berjanji di hadapan masyarakat saat sedang berkunjung ke sana melaksanakan salat Jumat. Saat itu Bupati juga didampingi Kepala Dinas PUPR Lobar dan jajaran lainnya.

“Waktu itu Bupati datang ke sini Jumatan dan berjanji kepada warga, bahwa jalan ini akan segera dilaksanakan (perbaikan). Namun sampai tiga tahun, saat ini jalan ini tidak pernah lagi dilirik oleh pemda,” herannya.

Pihaknya pun sudah berkali-kali bersurat. Namun, karena alasan refocusing anggaran akibat pandemi, mereka berusaha memaklumi kondisi tersebut. Sekarang, di tengah gencarnya Pemda Lobar akan membangun jalan baru, mereka yang hidup di kawasan dengan jalan yang rusak parah selama bertahun-tahun itu justru merasa dilupakan oleh pemda.

“Kalau memang pemda tidak mampu untuk bangun jalan yang di Duman, khususnya yang menuju ke Desa Giri Madya. Tidak usah bangun desa yang lain, tidak usah bangun jalan-jalan yang lain,” tukas Suhardi.

Pihaknya menegaskan, agar jangan sampai pemda menilai Duman tidak memiliki potensi ekonomi dan pariwisata, sehingga terkesan diabaikan. Padahal, kata dia, perputaran ekonomi di Desa Duman pusatnya ada di Dusun Duman Dasan tersebut. Karena rata-rata warga di sana merupakan petani dan peternak yang bahkan sebelum subuh, sudah mulai beraktivitas.

“Tidak ada satupun warga kami, dari anak-anak sampai orang tua yang nganggur di sini. Anak-anak pulang sekolah langsung ke gudang, cari uang saku. Orang tua juga begitu, walaupun penghasilannya hanya Rp100-125 ribu per minggu. Tergantung kemampuan mereka,” tutur dia.

Akses jalan yang rusak pun menyulitkan warga. Baik untuk bekerja, akses kesehatan hingga pendidikan. Diceritakan Suhardi, setiap harinya ada sekitar 13 pick up milik warga sana yang harus keluar masuk untuk mengangkut hasil kebun melalui jalan yang rusak tersebut.

“Karena dari sini juga jarak ke Puskesmas hampir 3 kilometer. Pernah ada beberapa warga kami yang usia kehamilannya di bawah 3 bulan, itu keguguran karena jalanan ini, termasuk juga istri saya,” bebernya.

Kemudian untuk bisa menuju SDN 2 Duman yang sumber muridnya dari tiga dusun, terpaksa harus melalui jalan itu untuk bersekolah. “Perlu diketahui juga kalau jalan ini yang dikatakan oleh pemda non status, tapi di atas sana setelah 2,5 kilometer dari sini ada jalan hotmix yang dikerjakan oleh pemda. Jadi tidak ada alasan pemda bicara soal status jalan,” tegasnya.

Jalan yang sudah rusak kurang lebih lima tahun itu diakuinya sudah pernah di Lapen (Lapis Penetrasi Makadam). Tetapi Lapen itu hanya bisa bertahan tiga hingga enam bulan. Sehingga pihaknya menolak untuk dilapen lagi lantaran dinilai kurang efektif sebagai solusi jangka panjang.

“Kami butuh jalan hotmix, kami butuh keberadilan dari pemda. Kalau pemda mampu membangun jalan yang lain, kenapa jalan yang sudah lama (rusak) tidak dilirik (perbaikannya),” tutup Suhardi. (yud)