Optimalkan Kompetensi Siswa, SMKN 4 Mataram Sinkronkan Kurikulum dengan Kebutuhan Industri

Mataram (Inside Lombok) – Sebagai upaya optimalisasi kompetensi siswa dan alumni sekolah kejuruan untuk bisa disesuaikan dengan kebutuhan IDUKA (Industri dan Dunia Kerja), SMKN 4  Mataram gelar workshop sinkronisasi penguatan kurikulum. Dengan menggandeng ICA (Indonesian Chef Association) NTB dan Akademisi Pariwisata, dalam hal ini STP Mataram dan pengurus IHKA (Indonesia Housekeepers Association) NTB.

“Kegiatan kita ini tujuannya untuk menyamakan IDUKA dengan kurikulum kita, jangan sampai nanti apa yang diajarkan tidak sesuai dengan kondisi dunia kerja yang sudah jauh berubah” ungkap kepala sekolah SMKN 4 Mataram, Bakiriyanto, saat dikonfirmasi di hotel Puri Saron, Senggigi, Senin (21/12/2020).

Dalam workshop yang digelar di Hotel Puri Saron, Senggigi tersebut melibatkan 30 orang. Dari jurusan yang saat ini dinilai harus tetap berjalan. Yakni tata boga yang diwakilkan oleh guru dan siswa yang kemudian bisa berdiskusi langsung dengan ICA. Kemudian perhotelan bisa berdiskusi langsung dengan STP (Sekolah Tinggi Pariwisata) Mataram dan pengurus IHKA NTB.

“Di situ sudah mereka akan berdiskusi langsung bagaimana yang saat ini terjadi di dunia usaha, kemudian sekolahan yang akan menyesuaikan” imbuhnya.

Di mana saat ini, yang masih dijadikan panduan, lanjutnya, tetap mengacu pada SKKNI (Standar Kompetensi Keahlian Nasional Indonesia). Sementara untuk dunia pariwisata perkembangan sudah cukup pesat. Sehingga harus mengikuti perkembangan dan kemajuan.

Bakir Juga menyebut, bahwa persentase alumni dari setiap lulusan SMKN 4 Mataram yang diserap dunia kerja sudah sekitar 60 persen.

“Sementara yang 20 persen itu lanjut kuliah dan 20 persen lagi itu berwirausaha” tandasnya.

“Jadi ibarat kita membuat makanan, kita pengen tahu selera orang itu apa sekarang? Apa yang diminati orang, itu lah yang akan kita bidik” tuturnya.

Maka melalui upaya sinkronisasi tersebut, akan diupayakan penemuan pola apa yang bisa diadopsi untuk mengupdate kurikulum dan harus diajarkan di sekolah.

“Harapan kita untuk semester selanjutnya, hasil dari sinkronisasi ini kita tindaklanjuti di sekolah. Di silabusnya seperti apa, tambahan apa yang harus masuk, termasuk RPP guru yang mengajar” harapnya.

Kepala Dinas Dikbud Provinsi NTB, H. Aidy Furqan pun mendukung upaya sinkronisasi tersebut dan menyebutnya sebagai salah satu langkah untuk menyempurnakan roadmap (peta jalan) SMK. Sehingga dalam kurun waktu empat tahun dapat terlihat hasilnya.

“Dan roadmap SMK melalui sinkronisasi ini ndak bisa sendiri, harus melibatkan pihak yang membutuhkan” tandasnya, saat hadir dalam workshop tersebut, Senin (21/12/2020).

Terlebih lagi sejauh ini, dengan banyaknya kritikan mengenai kompetensi alumni SMK yang dinilai tidak sesuai kebutuhan dunia kerja. Lantaran, faktor yang diajarkan belum match (cocok) dengan apa yang dibutuhkan pangsa kerja.

“Dan untuk ini bisa berjalan, tahun depan harus ada pendampingan melalui guru tamu yang berasal dari IDUKA” sebutnya.

Dengan tujuan untuk dapat menguatkan kompetensi baik bagi para guru maupun siswa. Di mana guru tamu itu pun, jelas dia, dibolehkan untuk memberikan penilaian terhadap kompetensi siswa. Tetapi penilaian akhir tetap menjadi kewenangan guru mata pelajaran.

“Lebih-lebih kalau ada SMK yang tidak punya guru produktif di kompetensi tertentu, itu sangat penting guru tamu” paparnya.

Untuk merealisasikan hal tersebut, sistemnya dapat dijalankan dengan cara sekolah yang akan melakukan MoU dengan IDUKA terkait. Kemudian dalam hal ini kewenangan Dikbud untuk mengeluarkan kebijakannya.

Selain dihadiri oleh Kepala Dikbud Provinsi NTB dan PLT Kasi Kurukulum PSMK Dikbud NTB, narasumber dalam workshop tersbeut juga diisi oleh ketua ICA (Indonesian Chef Assosiation) wilayah NTB, serta Akademisi Pariwisata (STP Mataram dan pengurus IHKA NTB).