Stok Lokal Masih Banyak, Pemkot Tahan Izin Masuk Telur Luar Daerah

Produksi telur lokal disalah satu peternak. (Inside Lombok/ist)

Mataram (Inside Lombok) –Sekitar 20 perusahaan meminta rekomendasi untuk bisa memasukkan telur ke Kota Mataram. Namun, melihat produksi lokal yang masih mencukupi kebutuhan masyarakat, pemberian rekomendasi tersebut ditangguhkan oleh Dinas Pertanian Kota Mataram.

“Telur belum kita kasih masuk. Banyak sekali telur yang mau masuk; ada sekitar sejutaan butir, tapi kita tidak kasih,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, H. Mutawalli. Diterangkan, perusahaan yang berusaha memasukkan telurnya ke NTB antara lain berasal dari Bali, Banyuwangi, Jember, dan lain-lain.

Ia mengatakan, persediaan telur di Kota Mataram masih cukup banyak. Baik bersumber dari produksi lokal maupun telur luar daerah yang sebelumnya sudah masuk. “Saya tunggu ini habis dulu, baru saya tanda tangan rekomendasi untuk telur luar daerah masuk ke Kota Mataram,” jelasnya.

Meski belum memberikan rekomendasi kepada perusahaan tersebut, Dinas Pertanian Kota Mataram tetap melakukan pengawasan. Pasalnya, telur dari luar daerah dikhawatirkan masuk secara ilegal ke Kota Mataram.

Pengawasan ini sudah dikoordinasikan dengan stakeholder terkait. Selain itu, untuk memperketat pengawasan, Dinas Pertanian akan menyusul penerbitan peraturan walikota Mataram.

“Kalau kita biarkan masuk terus nanti rusak harga telur di sini. Selain itu, perwal yang akan kita susun ini terkait jumlah telur yang boleh masuk ke Kota Mataram,” ungkap Mutawalli. Pihaknya memastikan, telur luar daerah tidak bisa masuk ke Kota Mataram dengan cara tersebut. Terlebih pengawasan ini sudah dikoordinasikan dengan berbagai pihak.

“Kita tidak tahu kalau di kabupaten/kota lain bagaimana, tapi kalau ke sini (Kota Mataram, Red) saya pastikan tidak masuk telur dari luar itu,” ujarnya.

Upaya menghentikan masuknya telur luar daerah tersebut dilakukan untuk menjaga harga telur lokal. Karena, jika telur dari luar daerah masuk maka akan merusak harga produksi lokal.

“Harga telur dari luar daerah itu lebih murah. Kalau telur lokal itu sampai Rp40 ribu, ada juga Rp42 ribu per tray,” katanya.