Total 47 Rumah Rusak Akibat Puting Beliung di Desa Badrain

127
Rumah salah seorang warga desa Badrain yang seluruh atapnya hilang tertiup angin puting beliung sore kemarin. Kamis (01/10/2020). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur'ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Bencana alam angin puting beliung yang menerjang kawasan Desa Badrain, Kecamatan Narmada, pada pukul 15:00 Wita kemarin, mengakibatkan 47 rumah di dua dusun mengalami kerusakan. Dengan total ada 190 jiwa yang terdampak.

Dua dusun tersebut yakni Medain Barat dan Medain Timur. Dimana di dusun Medain Barat terdapat 6 rumah yang dikategorikan rusak berat, 9 rumah rusak sedang dan 26 rumah rusak ringan. Sementara di dusun Medain Timur, 3 rumah masuk kategori rusak berat, 1 rumah rusak sedang dan 4 rumah rusak ringan.

Saat ditemui di lokasi bencana, kepala pelaksana BPDB Lombok Barat, Mahnan, menyebutkan bahwa bentuk tanggap bencana yang dilakukan yakni dengan turun langsung mengecek situasi dan memberi bantuan.

“Bantuan yang sudah kita distribusikan tadi malam dalam bentuk makanan dan juga kebutuhan yang bisa digunakan untuk berteduh di malam hari (terpal, selimut, tikar)” katanya saat mendampingi Bupati dalam meninjau korban dan lokasi bencana di Desa Badrain, Kamis (01/10/2020).

Mahnan menyebut, bahwa tanggap darurat dalam bencana puting beliung ini 14 hari. Dimana dalam waktu 14 hari tersebut, pihak terkait diharuskan untuk memprioritaskan kebutuhan sehari-hari para korban, serta diharuskan juga untuk melakukan kaji cepat.

“Kaji cepat itu, kita akan mengecek lapangan berdasarkan inventarisasi yang sudah dilakukan. Baik terkait kerusakan, korban jiwa, serta kebutuhan material apa saja yang dibutuhkan” jelas Mahnan.

WhatsApp Image 2020 10 01 at 19.33.34 2

Dalam tinjauan di lokasi bencana tersebut, Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Khalid menyebutkan bahwa bencana alam puting beliung yang terjadi di kawasan tersebut bukan yang pertama kalinya.

“Ini kan bukan yang pertama, kita sering sekali dilanda musibah angin puting beliung di beberapa titik. Dan yang selalu kena, di lokasi ini” sebut Fauzan.

Sehingga dirinya meminta kepada warga yang berada di daerah rawan bencana puting beliung untuk tetap waspada.

Penanganan yang dilakukan paling pertama dalam musibah ini, disebutnya memastikan bahwa ketersediaan makanan warga yang menjadi korban harus menjadi hal utama.

“Baru kemudian yang ke-dua, tentu kita akan bantu perbaiki rumahnya. Dengan menyiapkan semua material yang dibutuhkan” lanjut Fauzan.

Dan untuk proses perbaikannya, Pemda akan bersinergi dengan BPBD, Dinas Sosial, serta TNI-Polri.

WhatsApp Image 2020 10 01 at 19.33.34

“Bantuan yang sudah disalurkan itu kebutuhan pokok dulu. Kalau untuk kebutuhan rumah itu sedang dihitung untuk perbaikannya. Mudah-mudahan hari ini atau besok sudah mulai dikerjakan” pungkas Bupati Lobar ini.

Dirinya pun berharap supaya penanganan bencana angin puting beliung tersebut, masyarakat juga dapat turut berpartisipasi untuk membantu.

“Kita (Pemda) bisa, TNI-Polri bisa, tetapi masyarakat yang terkena musibah akan lebih terhibur ketika ada gotong royong juga dari masyarakat sekitar” ungkapnya.

Romi Purwandi, selaku Kepala Desa (Kades) Badrain menyebutkan bahwa dari 47 rumah yang terdampak puting beliung tersebut, 9 rumah mengalami rusak berat. Dimana atap rumah tersebut dirobohkan hingga diterbangkan angin.

“Di Badrain ini hampir setiap tahun terkena bencana puting beliung dan biasanya terjadi sebelum hujan” katanya.

Mengingat masa tanggap darurat bencana puting beliung tersebut terbilang 14 hari. Maka warga di dua dusun tersebut yang rumahnya mengalami kerusakan, saat ini disarankan untuk mengungsi terlebih dahulu. Baik di rumah tetangga maupun kerabat. Atau tinggal di tenda pengungsian yang dibangunkan oleh Pemda.

Mengetahui wilayah Desanya tersebut masuk dalam langganan bencana alam puting beliung, Romi pun menyebutkan, antisipasi yang dilakukan dengan berupaya untuk mendiskusikan dengan pihak terkait bagaimana pola rumah yang sesuai untuk daerah rawan angin puting beliung.

“Apalagi setelah gempa, sebagian besar rumah masyarakat itu atapnya menggunakan spandek dan itu sangat rentan diterbangkan angin kencang” ketusnya.

Sehingga berkaca dari musibah yang terjadi saat ini, dirinya berharap pihak terkait pun dapat segera melakukan kajian guna mencari solusi untuk mengantisipasi apabila di kemudian hari, bencana serupa terjadi kembali.

Masuniatun, salah seorang warga yang rumahnya mengalami rusak berat menyebutkan bahwa saat kejadian, dirinya bersama anaknya sempat tertimpa genteng spandek yang diterbangkan angin.

“Kita kan mau keluar, tapi anginnya kencang dan karena saya punya bayi, takutnya kena debu, jadi saya bawa masuk. Tapi di dalam rumah kita malah di putar dan saya sempat tertimpa atap” tuturnya terbata-bata.

Dirinya pun mengaku, walau tidak ada anggota keluarganya yang mengalami luka serius, namun dirinya dan anaknya masih merasa trauma.

“Yang luka lecet itu cuma punggung aja sama tangan, cuman anak-anak saya itu trauma” ungkapnya.

Kini dirinya pun bersama 6 orang anggota keluarganya tinggal di tenda pengungsian yang telah dibangunkan oleh Pemda di halaman rumahnya.