BI: Rendahnya Pertumbuhan Ekonomi NTB Dipengaruhi Tambang

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Achris Sarwani (kanan), dan Gubernur NTB, H Zulkieflimansyah (kiri), secara bersama-sama menjadi pembicara dalam forum bertajuk "Ngaji bareng pak gubernur, perekonomian NTB: terkini, ke depan, dan tantangannya, di Kantor Perwakilan BI Provinsi NTB, Kamis (9/5). (Inside Lombok/ANTARA/Awaludin)

Mataram (Inside Lombok) – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Nusa Tenggara Barat Achris Sarwani mengatakan relatif rendahnya pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I-2019 sebesar 2,12 persen (yoy) masih dipengaruhi kinerja sektor tambang yang belum membaik.

“Jika dibandingkan dengan daerah lainnya di regional Bali – Nusa Tenggara, NTB paling rendah. Bali dan Nusa Tenggara Timur masing-masing sebesar 5,94 persen dan 5,09 persen (yoy),” kata Achris di Mataram, Kamis.

Kondisi pertumbuhan ekonomi daerah tersebut dipaparkan Achris ketika menjadi pembicara dalam forum bertajuk “Ngaji Bareng Pak Gubernur; Perekonomian NTB:  Terkini, Ke Depan, dan Tantangannya”. Acara tersebut digelar di Kantor Perwakilan BI Provinsi NTB di Mataram.

Ia juga membandingkan pertumbuhan ekonomi NTB triwulan I-2019 dengan Sulawesi Tengah (Sulteng), yang tumbuh 6,77 persen (yoy). Padahal provinsi itu juga terdampak gempa bumi, sama halnya dengan NTB.

Memang, kata Achris, gempa bumi yang melanda Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa membawa pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi sejak triwulan III-2018, sehingga pada triwulan tersebut ekonomi NTB mengalami kontraksi (menurun).

“Kemudian penurunan kinerja ekspor konsentrat hasil tambang juga sangat memengaruhi perekonomian pascagempa,” ujarnya.

Provinsi Sulteng, lanjut dia, meski menjadi provinsi yang juga terdampak gempa memiliki pertumbuhan ekonomi yang masih cukup kuat pada triwulan I-2019 sebesar 6,77 persen (yoy).

Hal itu disebabkan kinerja ekonomi Sulteng ditopang oleh daerah di luar wilayah terdampak gempa, seperti ekspor LNG dan gas di Luwuk, industri pengolahan nikel di Kabupaten Banggai, dan perusahaan nikel serta baja di Kabupaten Morowali.

Untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi NTB, Achris menyampaikan rekomendasi jangka pandek, yakni dengan meningkatkan koordinasi dan peran Tim Pengendali Inflasi Daerah NTB dalam mengantisipasi periode perayaan hari besar keagamaan nasional.

Selain itu, menjaga ketersediaan bahan bangunan dan tenaga kerja, akselerasi pembangunan hunian tetap, integrasi paket wisata dengan Bali, dan melanjutkan akselerasi belanja daerah.

“Kalau rekomendasi jangka panjang, yakni memperkuat kualitas sumber daya manusia untuk meningkatkan produktivitas, peningkatan daya saing ekspor non-tambang, hilirisasi industri pengolahan sumber daya alam dan industrialisasi pariwisata,” katanya.

Sementara itu, Gubernur NTB H Zulkieflimansyah menjelaskan bahwa salah satu solusi untuk meningkatkan perekonomian NTB adalah industrialisasi.

“Industrialisasi harus segera hadir di NTB. Industrialisasi memastikan penciptaan nilai tambah ekonomi sehingga mengurangi impor produk-produk yang tidak dapat dihasilkan sendiri, yang didapatkan dari luar NTB,” katanya. (*) (Ant)