30.5 C
Mataram
Minggu, 14 Juli 2024
BerandaEkonomiIndustrialisasi Minyak Atsiri Berkembang di NTB, Tekan Impor Kayu Putih

Industrialisasi Minyak Atsiri Berkembang di NTB, Tekan Impor Kayu Putih

Mataram (Inside Lombok) – Kayu putih sebagai salah satu komoditas yang bisa menopang penghidupan petani hutan terus didorong agar berkembang di NTB. Terlebih industrialisasi minyak atsiri saat ini semakin berkembang, termasuk dengan adanya pabrik yang mengolah kayu putih yang beroperasi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi NTB, Julmansyah mengatakan salah satu wujud yang didorong selama 4 tahun ini adalah industrialisasi minyak atsiri kayu putih. Bahkan sudah ada perjanjian kerjasama untuk lokasi perhutanan sosial dengan pabrik kayu putih CV Galih Tulen di desa Timbanuh Pringgasela.

“Dimana perjanjian kerjasamanya di fasilitasi oleh KPH, ada dua lokus sumber bahan baku kayu putih di Lombok. Satu di KPH Pelangan Tastura, dari sekitar praya barat dan dari Sambelia, Gunung Malang dan sekitarnya,” ujar Julmansyah, Selasa (11/6).

Beberapa wilayah tersebut yang menghidupkan pabrik kayu putih CV Galih Tulen di Timbanuh Pringgasela. Saat ini pabrik tersebut sudah beroperasional dengan rata-rata produksi 2 ton perhari. Dalam 1 ton sama dengan 1.000 kg bisa menghasilkan sekitar 10 liter minyak atsiri. “Pasar kayu putih itu sangat terbuka luas, saya kira kita masih impor kayu putih itu sekitar 70 persen dari luar di Indonesia. Makanya kita dorong kayu putih ini,” tuturnya.

- Advertisement -

Apalagi kayu putih itu tidak dimakan hewan ternak. Kemudian bisa tumbuh dengan baik pada iklim yang sangat ekstrim. Dimana kondisi cuaca semakin kemarau, hasil daun kayu putih itu semakin hijau. Pabrik minyak atsiri kayu putih ini tidak hanya di Lombok, tetapi ada juga di Bima dan masih beroperasional. “Yang di bima masih (operasional,red) dia punya HGU (hak guna usaha) 30 ribu hektar. Terakhir kita monitor masih berjalan,” terangnya.

Saat ini kayu putih mulai berkembang di Lombok Timur bagian selatan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Lombok Timur (Loti) di area Sambelia dan Pringgabaya, serta mulai berkembang di Jerowaru. Selanjutnya, ada di Tambora bagian utara yang di PT Sanggar Agro dan berkembang di beberapa KPH di pulau Sumbawa.

“Baru dua (investor), baru yang di Tambora masuk Bima dengan kapasitas pabriknya 70 ton sehari. Kayu putih tetap kita dorong, sekarang kita sedang siapkan persemaian permanen di Desa Rembitan Lombok Tengah. Itu kapasitasnya 5 juta bibit,” jelasnya.

Sementara itu, nantinya sebagian besar kayu putih akan disuplai bagi petani yang lahan kering dan dibagikan secara gratis. Saat ini sedang final bagunan fisiknya dan ditargetkan sebelum September 2024 sudah selesai dan diresmikan oleh Menteri LHK atau presiden. (dpi)

- Advertisement -

Berita Populer