25.5 C
Mataram
Jumat, 1 Maret 2024
BerandaLingkungan25 Ton Sampah Dikumpulkan Selama MotoGP Mandalika 2023

25 Ton Sampah Dikumpulkan Selama MotoGP Mandalika 2023

Lombok Tengah (Inside Lombok) – Sebanyak 25 ton Sampah berhasil dikumpulkan oleh petugas selama event MotoGP berlangsung di Sirkuit Mandalika 13-15 Oktober kemarin. Semua jenis sampah dikumpulkan di dua tempat pembuangan sampah (TPS) sementara yang berlokasi di zona tengah sirkuit dan di zona luar sirkuit.

Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Tengah (Loteng), Amir Ali menjelaskan sampah yang berhasil dikumpulkan pada event tersebut kemudian dikumpulkan di TPS sementara yang terletak di zona tengah dan zona luar Sirkuit Mandalika.

“Semua sampah (dikumpulkan, Red). Ada 14 jenis sampah yang dipilah. kalau jenis biomassa seperti kayu dan organik lainnya kita pakai langsung untuk timbunan di dalam zona tengah sirkuit. Tidak lagi dibawa ke TPA Pengengat,” ujarnya.

Dikatakan, total sampah selama gelaran MotoGP Mandalika seberat 25,087 ton, baik itu dari TPS zona dalam dan zona luar. Khusus untuk sampah di dalam area sirkuit yakni seberat 12,209 ton sedangkan yang di dalam 12,878 ton.

- Advertisement -

“Sampah yang dikumpulkan di areal parkir akan dibawa ke TPS barat (belakang Raja Hotel), dan untuk paddock dan di dalam areal sirkuit akan dibawa ke timur,” katanya.

Dikatakan, pihaknya juga menyiapkan petugas khusus yang melakukan pemilahan sampah. Setelah itu dari hasil pemilahan sampah yang dibuang TPA Pengengat itu 4,394 ton atau sampah jenis residu. “Sampah yang tidak dapat di daur ulang seperti karet, kaca, styrofoam, kantong plastik mika ke TPA,” katanya.

Sementara sampah seperti sisa makanan seperti nasi kemudian atau sampah organik tidak lagi di ambil oleh BSF karena pada event ini tidak lagi ikut serta mengurangi sampah event MotoGP. “BSF tidak ikut serta sekarang, jadi kita timbun di tengah yang di barat juga dibawa ke sana, BSF sudah tidak aktif mati,” katanya.

Sementara itu, pihaknya tidak mengetahui secara pasti jumlah petugas yang terlibat dalam mengurangi sampah. Sedangkan DLH sendiri hanya mendukung untuk fasilitas pengangkatan hingga ke TPA.

“Kami tidak tahu jumlahnya ya karena ini ada pihak ketiga. Karena kami dari DLH Loteng dan Provinsi itu mengawasi proses kalau soal gaji petugas kita tidak tahu. Ini bentuk suport saja free,” tegasnya.

Sementara, itu salah satu petugas pemilah sampah yang enggan disebutkan namanya, mengaku bahwa ia bekerja sejak pagi hingga malam. ia juga mengatakan bahwa pihak penyelenggara menjanjikan upah Rp115 ribu per hari.

“Kita dihitung per hari 115 ribu tanpa dikasih makan, selama lima hari kita bekerja di sini,” katanya. Selain itu, ia mengakui kalau jenis sampah, seperti botol minuman dan sampah yang bisa didaur ulang akan diambil oleh pengepul. (fhr)

- Advertisement -

Berita Populer