Mataram (Inside Lombok) – Capaian program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kota Mataram sepanjang 2025 baru mencapai sekitar 12,18 persen dari target 448.775 jiwa. Hingga Selasa (14/4/2026), jumlah warga yang terlayani tercatat sebanyak 161.559 jiwa, jauh di bawah sasaran yang ditetapkan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram, dr. Emirald Isfihan, menyatakan capaian tersebut masih di bawah standar yang dipersyaratkan. “Memang capaian kita di 2025 masih lumayan rendah, di bawah 13 persen seperti yang dipersyaratkan,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, Dinkes Kota Mataram berkomitmen memperbaiki capaian pada 2026 dengan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pendanaan dari pemerintah pusat. Optimalisasi dana dari Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) akan dilakukan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan lapangan secara lebih masif.
“Kita tidak ingin mengulangi kendala yang sama. Di tahun 2026 ini, kita upayakan berjalan dengan mengoptimalkan peran dan pendanaan BLUD, di samping tetap berkoordinasi dengan pemerintah pusat,” tegasnya.
Selain itu, Emirald menginstruksikan jajarannya untuk memperluas jangkauan layanan dengan menyasar berbagai keramaian publik, seperti kegiatan di Jalan Udayana dan acara kemasyarakatan lainnya. Strategi ini difokuskan pada perluasan skrining kesehatan secara menyeluruh, bukan hanya kegiatan seremonial.
Pada 2026, target sasaran meningkat menjadi 451.323 jiwa, sehingga tantangan yang dihadapi diperkirakan lebih besar. Emirald menyebut sistem pemeriksaan yang terintegrasi dalam berbagai kegiatan eksternal diharapkan mampu meningkatkan akurasi pendataan kesehatan warga.
“Penting bagi kita untuk mengetahui profil kesehatan warga secara real-time. Jika ditemukan risiko tinggi, mereka langsung masuk prioritas penanganan rutin. Target ini akan kami pantau ketat setiap triwulan agar tidak lagi meleset seperti tahun sebelumnya,” katanya.
Ia menambahkan, rendahnya capaian pada 2025 disebabkan ketergantungan terhadap distribusi sumber daya dari pemerintah pusat yang sempat terhambat, serta pola layanan puskesmas yang masih pasif dengan menunggu masyarakat datang. “Persoalannya kemarin ada pada ketersediaan sumber daya yang berasal dari pemerintah pusat yang sempat terhambat,” katanya.

