Obituari Hajat dan Cinta – Cerpen A. N. H.

152
Ilustrasi oleh Nuraisah Maulida Adnani

Seikat bunga digenggam erat-erat oleh Paksi yang masih merasakan ngilu di hati. Sudut jiwa meremang sebab rasa sakit yang menghujam. Andaikan hati ini bukan buatan Tuhan, sudah pasti meledak dan tak lagi berbentuk hati. Tegak Paksi berdiri. Bukan lagi ia sekuat elang yang menerjang mangsa. Melainkan ia selemah mangsa yang meminta elang buat menyantapnya.

Sebentar lagi Paksi akan pulang. Membiarkan hatinya dimakan oleh duka. Sebentar lagi, sampai juwita yang ingin dia jumpa benar-benar tak lagi tampak di dalam pandangan netra. Betapa Paksi ini kuatnya melebihi Gatotkaca. Sudah terinjak masih menanti dengan setia. Sudah tersakiti masih menanti dengan penuh hati untuk menepati janji.

Sudah Paksi ikrarkan dalam hati bahwa hari ini akan jadi hari terakhir di mana ia akan mencintai. Esok, obituari soal hajat jua cinta yang sudah tiada akan ia sebarkan melalui surat kabar kota. Biarlah satu kota ini mengerti bahwa Paksi tengah berpatah hati.

***

Nilam memandang Paksi dengan penuh iba. Paksi tampak tak kuasa menahan dirinya meski pemuda itu mencoba. Nilam sudah berkata pada Paksi bahwa menangis tak akan menjadi masalah kalau lelaki itu tengah terserang duka. Tetapi, Paksi menolak. Dirinya memilih untuk menjadi setegar karang demi tiga orang bocah yang memandang Paksi dengan mata sembab yang tak bisa disembunyikan.

“Mbak Nilam… Mas Paksi masih belum mau makan?” Suara seorang perempuan menyadarkan Nilam yang tengah memandang Paksi dari sebuah kursi. Nilam mendongak. Ia menggeleng dengan senyum yang tampak dipaksakan di wajah indahnya.

“Belum,” jawab Nilam, sekenanya.

Pikir Nilam, mana mungkin Paksi mau makan? Apa yang ia saksikan menjadi sebuah bukti kuat bahwa duka akan merenggut semua kewarasan yang engkau punya. Paksi boleh jadi sudah terbangun dari komanya. Tetapi, lelaki itu tak akan mampu menerima kenyataan yang ada.

Pemuda itu sendiri kini memandang jendela Rumah Sakit Dr. Moewardi yang terbuka lebar. Nilam sama sekali tak menyaksikan ada air mata mengalir di pipinya. Nilam sama sekali tak menyaksikan Paksi menjerit atau menampakkan dukanya. Nilam sama sekali tak menjumpai sorot penuh lara milik Paksi Haryakusuma. Paksi hanya terdiam sejak berita itu ia dengar. Paksi hanya diam padahal ia baru sadar. Paksi hanya diam meski Nilam sudah berkisah soal banyak hal untuk menjauhkan duka yang Paksi rasa.

“Si.” Nilam bersuara. Parau nan pelan. “Aku sudah sidang. Sebagai gantinya Mas Hadi, tolong datang ke wisudaku nanti, ya?”

Pelan, Paksi membalikkan badannya. Lelaki dalam balut pakaian pasien itu sendu memandang Nilam juga ketiga orang bocah yang sudah sembab memandang Paksi yang sedari tadi belum bereaksi.

“Kenapa harus saya, Nilam?” Sama paraunya, sama pelannya. Paksi menjawab, “Bukannya Mas Hadi tak akan pernah terganti? Lagi, saya ini pendosa yang hidup setelah Mas Hadi pergi. Untuk apa kamu datang lagi ke saya sehabis Mas Hadi mati dan saya hidup seperti ini? Bukannya kamu harus membenci saya sebab saya egois karena hidup sendirian sementara Mas Hadi mati?”

“Paksi,” suara Nilam tertahan air mata. “Tolong datang. Aku mohon. Tolong janji sama aku untuk datang, Si.”

“Ya. Tentu. Demi Mas Hadi yang sudah mati.”

***

Hari wisuda Nilam tiba setelah Paksi keluar dari rumah sakit sehabis koma dua minggu yang terjadi sebab ia mengalami kecelakaan di dekat Stasiun Purwosari. Paksi sudah bisa berjalan seperti sedia kala. Sudah bisa pula menerima keadaan bahwasanya sang abang, pacar Nilam, tiada segera setelah kecelakaan itu terjadi sementara Paksi tak sadarkan diri.

Mengenakan sepotong kemeja, Paksi datang ke wisuda Nilam dengan seikat bunga segar yang Mas Hadi bicarakan pada Paksi di motor. Yang akan Mas Hadi berikan pada Nilam saat hari spesial Nilam. Seikat bunga krisan dengan beberapa bunga mawar adalah yang Mas Hadi paparkan pada Paksi di motor petang itu. Krisan berarti pengharapan. Mas Hadi menjelaskan bahwa ia berharap agar dirinya bisa menikahi Nilam segera setelah Nilam wisuda. Paksi hari itu hanya mengaminkan. Sebelum motor yang mereka kendarai ditabrak oleh sebuah truk yang oleng dari belakang. Dan Mas Hadi, pergi.

Dari luar gedung, Paksi sudah menanti dengan sabar. Hingga tiba para wisudawan keluar dari sana. Dan ia menyaksikan, Nilam dikecup mesra oleh seorang pria di puncak kepalanya yang helai-helaian rambutnya menjuntai indah hingga ke bahunya.

Di sudut halaman gedung, Paksi hanya mampu tersenyum. Jiwa Mas Hadi tersedot masuk ke dalam relung. Janji yang Mas Hadi beri kini tinggal janji. Tak lagi berarti setelah Nilam dikecup oleh seorang pria yang memberinya senyum. Paksi tertawa penuh ironi.

Betapa cepat Mas Hadi yang mati, terganti. Maka kali ini, obituari si mati harus benar-benar Paksi terbitkan setelah janji itu ditekuk dan dibuang pergi oleh Nilam dan bunga krisan yang lantas Paksi buang.

***

“Si, Paksi.”

“Opo, Mas?”

“Kalau bukan sama Nilam, aku lebih baik mati, Si.”

Kau lebih baik mati, Mas. Kau lebih baik mati.

***

IMG 20220116 WA0003A. N. H. atau Abiraj Nadir, merupakan sebuah nama pena sebab dirasa lebih senang tak menunjukkan persona. Kelahiran Maret, 2003 dan berzodiak Aries. Menyukai karya Buya Hamka serta Cupumanik.