Harum dari Gaun – Puisi Faris Al Faisal

114
Ilustrasi oleh Nuraisah Maulida Adnani

Lelampu Jalan, Mati

Sebuah jalan, sebuah lorong panjang
Bagai malam
Perjalanan melintas dan lelampu jalan, mati
Detik-detik menuju si buta
Meraba, tanpa tongkat pegangan
Tanpa sebuah petunjuk
Tak ada sesiapa berpapasan
Perasaan direngkuh kegelapan
Barangkali juga kepala membentur batang pohon
Tanpa bayang-bayang
Dapatkah menemukan ujung dari pengembaraan ini?
Sehabis pesta cahaya dan gemerlap
Percakapan, gelak tawa
Bahkan bunyi gitar
Terdengar lagu-lagu dan tarian
Yang menenggelamkan ke laut
Tetapi rasa pahit mengantarkan aku ke pintu perpisahan
Pergi dan kembali kepada kesunyian
Lenyap dari matamu di kelok jalan, batasan
Dari pandangan
Dan mengapa demikian? Seperti jarak
Bagi rindu yang kehilangan
Lalu pepohonan hutan menutupi
Kaki tak jadi akar
Kelelahan menjalar
Kecemasan sepanjang malam
Jika tak datang matahari
Tak ada esok pagi
Tak ada hari buatku lagi

Indramayu, 2020

Udara Segar dari Jendela

Karena kemarau
Karena kemarau
Kamar istirahku penuh peluh
Dan rindu itu menjelma dalam bentuk lain
Udara segar dari jendela
Adalah kekasih yang hilang
(mungkin juga pergi, entah kapan kembali)
Atas hilangnya kebaikan waktu
Musim mengering di kulit kayu
Sesak dalam kepul debu
Angin berhenti
Lalu bertiup mendorong uap
Pengap
Membentur tenggorokan hiu purba
Melompat dan menghela mawar laut,
Mawar azimut
Mawar keriput
Mawar hanyut
Larut meraba jantung cahaya
Wangi udara
Di mana-mana,
Tak ke mana-mana
Seperti bunga

Indramayu, 2020

Harum dari Gaun

Telah berlalu gerisik kemarau
Harum mulai tercium dari gaun
Kebun-kebun yang kau tanami bunga
Dan juga cinta
Di tubuhmu, dari botol parfum
Memercik ketenangan
—hutan tropis
Kebebasan dan luas lautan
Burung-burung asia di udara
Melintasi mereka yang sejenak kehilangan kesadaran
Tanpa berkata apa-apa
Mencium wewangian yang sempat hilang
Semangat yang kemudian hidup
Seperti tetumbuh kembang di bawah curah hujan
Bagai kota-kota yang terbangun
Siang dan malam
Musim jatuh di atap-atap
Turun ke pelimbahan
Mengalir ke sungai
Menjadi sepercik air jernih
Yang berlari
Menuju ke banyak tempat
Ke banyak peristiwa

Indramayu, 2020

IMG 20220115 WA0015Faris Al Faisal lahir dan berdikari d(ar)i Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Pada “World Poetry Day March 21” menuntaskan 1 Jam Baca Puisi Dunia di Gedung Kesenian Mama Soegra Dewan Kesenian Indramayu (2021). Puisinya mendapat Hadiah Penghargaan dalam Sayembara Menulis Puisi Islam ASEAN Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara ke-9 Tahun 2020 di Membakut, Sabah, Malaysia, Juara 1 Lomba Cipta Puisi Anugerah RD. Dewi Sartika dan mendapat Piala bergilir Anugerah RD. Dewi Sartika, Bandung (2019), mendapatkan juga Anugerah “Puisi Umum Terbaik” Disparbud DKI 2019 dalam Perayaan 7 Tahun Hari Puisi Indonesia Yayasan Hari Puisi, dan pernah Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kategori Umum Tingkat Asia Tenggara Pekan Bahasa dan Sastra 2018 Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Tersiar pula puisi-puisinya di surat kabar Indonesia dan Malaysia. Buku puisi keduanya “Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian” penerbit Rumah Pustaka (2018).