Perempuan yang Mengutuk Takdir – Cerpen Sisik

214
Ilustrasi Oleh Nuraisah Maulida Adnani

Perempuan itu terus saja berjalan di tengah hujan, menyusuri jalan raya yang lengang dari kendaraan. Airmatanya telah bersanggama dengan air hujan. Kepalanya terus menunduk memikirkan kehidupan yang terus saja menyita harapan. Baginya, segala sesuatu berjalan tanpa perasaan kecuali kekosongan dan keterasingan.

Sesekali ia mengutuk Tuhan yang kurang mapan. Ia mempertanyakan mengapa kehidupan dewasa tidak pernah menyenangkan. Tak pernah indah seperti yang dibayangkan ketika masih kecil. Hidup bebas, memiliki kekasih yang setia, bekerja di gedung lantai lima, memakai sepatu hak tinggi yang berbunyi “Tok, tok, tok,” di lantai kantor, atau menjadi sekretaris yang sibuk dengan dokumen penting di dekapan.

Namun semua mimpi itu kini telah sirna setelah ia menerima kenyataan dari Tuhan bahwa sekarang ia tak punya apa-apa lagi. Bapak yang dulu selalu mendukungnya telah berpulang duluan. Ibunya sibuk ke sana-sini mengetuk pintu rumah tetangga untuk meminta pinjaman buat makan. Hidup memang bajingan!

Perempuan itu memiliki watak keras kepala. Ia selalu melawan dan memberontak. Ia tak pernah ingin dikekang oleh keadaan. Baginya takdir adalah sebuah keniscayaan. “Akan kurebut takdirku dari tangan Tuhan, dan aku akan menuliskannya kembali sesuai dengan keinginanku,” katanya dalam hati sambil terus saja berjalan di tengah hujan tanpa arah dan tujuan.

Ia berdiri mematung di depan sebuah toko kecil. Ia mengusap matanya yang kini sayu agar penglihatannya semakin jelas di tengah hujan.

Di tempat ini, aku pertama kali bertemu dengannya. Yah, di sini, di pinggir jalan ini,”

Seketika lamunannya terbang menuju mantan kekasihnya. Ingatannya seperti berteleportasi ke masa lampau.

Kenangan manis yang sulit ia lupakan. Ia telah bertahun-tahun menjalin hubungan dengan lelaki itu, lelaki paruh baya yang sangat dikaguminya karena kehebatan bela diri dan berkata-kata yang dimiliki laki-laki itu. Segalanya telah ia berikan. Bahkan telah ia gantungkan hidup dan matinya di tangan laki-laki itu. “Aku dan kamu akan hidup bahagia bersama,” ucap sang kekasih saat mereka berdua kencan di taman kota. Perempuan itu seolah-olah terhipnotis oleh kata-kata itu dan menganggap dialah perempuan paling bahagia di dunia.

Namun nahas baginya. Kekasih yang menjanjikannya hidup semati bersama itu telah meninggalkannya di tengah badai kehidupan yang menerpa. Asa yang telah dirajut kini telah sirna, yang tinggal hanya penyesalan dan penyesalan. “Laki-laki bajingan, kau tak ubahnya seperti Tuhan, sama-sama bajingan!” pekiknya sendiri di depan toko itu kemudian beranjak pergi.

Ia baru menyadari betapa bodohnya ia selama ini. Ia teringat dengan kata salah seorang laki-laki yang sejak dulu mengaguminya namun selalu tak ia hiraukan. Laki-laki itu berpesan,

Non, segala bentuk ketergantungan adalah penindasan.”

Benar katamu, aku telah ditindas selama ini oleh perasaanku sendiri, aku benci Tuhan, aku benci laki-laki itu,” katanya ngedumel dalam hati.

Hujan masih terus mengalir dengan begitu derasnya. Jalan perempuan itu makin lama makin gontai, namun kakinya ia paksakan terus melangkah memasuki gang sempit di persimpangan jalan itu.

Tuhan, apa salahku, kenapa hidupku diterpa begitu banyak masalah, mengapa kau uji aku melebihi batas kemampuanku!

Ibu, kutuk aku, kutuk aku menjadi batu, Bu!” katanya berteriak sambil menangis dan menepuk-nepuk dadanya.

Ia sudah sangat tidak tahan dengan beban pikiran yang selama ini mengganggunya.

Ia terus saja berteriak sendiri di gang sempit itu seperti orang gila. Di sela-sela tangisnya, perempuan itu melihat seekor anjing betina datang menghampirinya, menatapnya dengan tatapan setajam pedang. Anjing itu tidak menggonggong, hanya diam terpaku menatap perempuan itu.

Anjing! Apa kau lihat-lihat!” pekik perempuan itu dengan mata melotot.

Jika kau ingin makan aku, makanlah. Aku tidak takut denganmu, Tuhan saja aku tantang, apalagi kau yang seekor anjing yang memang anjing!” tegasnya sambil menjulurkan tangannya kepada anjing tersebut.

Anjing itu tetap saja diam dan masih terus menatap matanya.

Kau tahu, aku sudah sangat lelah menjadi manusia. Aku ingin menjadi anjing sepertimu, bebas ke mana-mana, tak perlu memikikirkan uang, setoran, biaya buat makan. Enak sekali kau yah, di dalam hati kau pasti menertawaiku,” ucap perempuan itu seakan-akan berbicara dengan anjing betina itu.

Anjing itu tetap saja diam dan masih terus menatap mata perempuan itu.

Tiba-tiba petir dan kilat menyambar anjing yang diam itu. Mata anjing itu berubah menjadi merah menyala dan terus saja menatap perempuan itu. Perempuan itu menjadi ketakutan dan perlahan-lahan badannya mundur.

Seketika anjing itu tiba-tiba bisa berbicara,

Aku dulunya manusia, kemudian berubah menjadi anjing seperti ini setelah mengutuk Tuhan di tengah hujan. Persis sepertimu.”

IMG 20220213 WA0008Sisik, manusia biasa saja yang sedang sibuk tidak ngapa-ngapain. Dapat ditemui di akun @haysisik