NTB Petakan Komoditas untuk Industrialisasi Olahan

Ilustrasi - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr H Zulkieflimansyah (tengah) didampingi Kepala Dinas Perindustrian NTB Andi Pramaria saat meresmikan sebuah industri penyulingan Cengkeh yang belokasi Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat, Selasa (12/3). (Inside Lombok/ANTARA/Humas Pemprov NTB (1) (1/)

Mataram (Inside Lombok) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melakukan pemetaan berbagai komoditas yang segera memasuki tahap industrialisasi untuk peningkatan nilai tambah.

Kepala Dinas Perindustrian NTB, Andi Pramaria di Mataram, Sabtu, mengakui dari hasil pemetaan yang dilakukannnya  sudah ada beberapa produk primer yang teridentifikasi siap untuk di industrialisasi, di antaranya, jagung dengan potensi produksi 2,3 juta ton/tahun dan untuk konsumsi hanya 500.000 ton., kemudian garam rakyat dengan produksi 280.000 ton/tahun dan konsumsi 27 ton.

“Sedangkan untuk sapi, saat ini sedang dibahas dengan LIPI, khususnya terkait produksi sperma. Demikian juga halnya penyiapan permesinan mendukung industri hulu, utamanya alat pertanian, penyiapan mesin pengolah industri hilir lainnya, kini terus berproses,” ujarnya.

Sementara itu untuk produk smelter, menurut mantan Kepala Dinas Kehutanan NTB ini, masih menunggu kelanjutan tim smelter dan fasilitasi KI dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Sedangkan, pengolahan daging sapi masih dibahas secara teknis mengenai rencana operasionalisasi RPH Banyumulek dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB.

Sementara itu, Gubernur NTB H Zulkieflimansyah mengatakan industrialisasi sesungguhnya merupakan proses penambahan nilai produk unggulan NTB secara terencana.

Salah satu contoh program Pijar (sapi, jagung dan rumput laut). Bang Zul sapaan akrabnya, menilai sudah sangat bagus. Tetapi untuk melanjutkannya bukan sekadar jual sapi, jagung dan rumput laut, melainkan, mulai mengarah kepada langkah mengolah sapi, jagung dan rumput laut tersebut menjadi produk-produk olahan yang kompetitif sehingga teridentifikasi produk-produk tersebut setiap tahun berubah dan terukur peningkatan nilainya

“NTB tidak akan maju kalau setiap tahun  jual jagung, kopi, garam dan madu saja. Sekarang okelah kita punya jagung, kopi, garam dan madu. Tapi tahun depan sudah harus jagung, kopi, madu dan garam yang diolah,” tegasnya.

Karena itu, lanjut gubernur, tahun depan mestinya NTB sudah memiliki produk-produk unggulan seperti mesin-mesin pengolah hasil perikanan, mesin pengolah hasil pertanian, mesin pengolah hasil hutan, perkebunan dan lainnya. Karenanya, ia mengajak seluruh jajaran berpikir inovatif dan agak detail.

“Saya nggak mau dengar lagi, kita mau memproduksi semata jagung, kopi, madu dan garam. Bikin list 10 atau 15 produk- produk di sektor pertanian dan pertambangan, termasuk dengan akan hadirnya smelter, akan banyak yang bisa dilakukan,” katanya. (Ant)