Lombok Timur (Inside Lombok) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat belum merata dirasakan di wilayah terpencil. Ratusan siswa di Lendang Belo, Dusun Batu Tinja, Desa Selaparang, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, dari SD Negeri 4 Selaparang dan SMP Negeri 1 Satu Atap Suela belum pernah menerima manfaat program tersebut meski telah berjalan lebih dari satu tahun.
Salah seorang guru setempat, Iman, mengungkapkan bahwa sejak program diluncurkan, siswa di sekolahnya belum pernah mendapatkan distribusi makanan bergizi. Ia mengaku prihatin karena sekolah lain sudah menerima MBG melalui mobil dapur SPPG, sementara sekolahnya belum tersentuh program tersebut. “Kalau melihat sekolah lain sudah dapat, tentu kami merasa sedih. Anak-anak di sini belum pernah merasakan,” ujarnya.
Iman juga menceritakan sempat munculnya harapan siswa ketika sebuah kendaraan memasuki area sekolah. Namun, kendaraan tersebut bukan bagian dari program MBG. Seiring waktu, antusiasme siswa menurun karena belum ada kepastian distribusi. “Awalnya mereka sangat berharap, bahkan sering bertanya kapan dapat MBG. Tapi sekarang sudah mulai bosan bertanya karena belum ada kejelasan,” katanya.
Pihak sekolah hingga kini belum mengetahui alasan pasti belum tersalurkannya program tersebut. Meski lokasi dapur penyedia MBG dinilai tidak terlalu jauh, Iman menduga kendala akses menjadi faktor utama, mengingat kondisi jalan rusak dan jarak tempuh yang cukup jauh. Ia juga menyebut sebelumnya sempat ada pengumpulan data siswa, namun tidak ada tindak lanjut.
“Memang pernah ada yang minta data siswa, tapi setelah itu tidak ada kabar lagi. Mungkin karena faktor jarak dan akses jalan,” jelasnya.
Pelaksana Tugas Kepala UPTD Dikbud Kecamatan Suela, Mohamad Sakban, menyatakan kedua sekolah tersebut masuk kategori wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) dalam skema MBG sehingga tidak termasuk penyaluran reguler. Meski demikian, pihaknya telah berkoordinasi agar siswa dapat diakomodasi melalui dapur terdekat.
“Kami sudah berkoordinasi agar sementara bisa diakomodasi oleh dapur terdekat yang memungkinkan,” ungkap Sakban.
Namun, hingga kini belum ada kepastian terkait realisasi program MBG di wilayah tersebut. “Untuk saat ini belum ada informasi lanjutan dari pimpinan mengenai realisasinya,” tutupnya. Kondisi ini menunjukkan masih adanya kendala pemerataan program pemerintah di daerah dengan akses terbatas, sementara siswa di Lendang Belo masih menunggu realisasi program tersebut.

