Lombok Tengah (Inside Lombok) – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dimanfaatkan komunitas Tastura Mengajar untuk menggelar kegiatan “Bergerak di Selatan, Spesial Aksi di Hardiknas” di Gubuk Panggel, Desa Mekar Sari, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah. Kegiatan ini menyoroti masih terbatasnya akses pendidikan di wilayah perbukitan terpencil yang sulit dijangkau.
Ketua Tastura Mengajar, Lalu Gitan Prahana, menyatakan bahwa kendala utama yang dihadapi anak-anak di Panggel tidak hanya terbatas pada fasilitas, tetapi juga akses jalan menuju sekolah.
“Ada puluhan anak-anak di Panggel yang belum merasakan akses jalan yang layak. Mereka harus berjalan kaki berjam-jam untuk sampai ke sekolah. Saat musim hujan, kondisi jalan rusak parah bahkan membuat mereka tidak bisa berangkat sama sekali,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada tingkat kehadiran siswa yang sangat bergantung pada cuaca. Jalan berlumpur dan licin menjadi penghambat utama, bahkan berkontribusi terhadap tingginya angka putus sekolah. “Jadi salah satu penyebab tingginya angka putus sekolah bukan karena anak-anak tidak mau belajar, tetapi karena kelelahan dan beratnya medan menuju sekolah,” tambahnya.
Selain akses, keterbatasan sarana pendidikan juga menjadi persoalan. Gitan mencontohkan kondisi SD Negeri Tambing Kekeq di Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara, yang hanya memiliki tiga ruang kelas untuk enam tingkat. “Sekolah tersebut hanya memiliki tiga ruangan untuk enam tingkatan kelas. Satu ruangan bahkan harus dibagi dua menggunakan sekat triplek,” jelasnya.
Ia menilai kesenjangan sarana dan prasarana antara sekolah di pusat kota dan wilayah pelosok masih tinggi. Gitan berharap pemerintah daerah dapat lebih fokus pada pemetaan kebutuhan riil masyarakat.
“Pemerataan pendidikan bukan sekadar urusan seragam, tetapi bagaimana setiap anak di Gumi Tastura mendapatkan kesempatan yang sama untuk bermimpi dan berprestasi, tanpa terhalang kondisi geografis dan keterbatasan fasilitas,” tegasnya.
Sementara itu, Bunda Literasi NTB, Sinta M. Iqbal, meninjau langsung kondisi di Panggel dan menyatakan akan menyampaikan kebutuhan mendesak kepada Pemerintah Provinsi NTB. Ia menyoroti tiga isu utama, yakni infrastruktur jalan, air, dan sanitasi. “Hari ini saya akan menjadi perpanjangan tangan untuk menyampaikan apa yang kami lihat dan rasakan di sini. Ada tiga isu utama yang akan saya sampaikan, yakni jalan, air, dan sanitasi,” ujarnya.
Terkait pendidikan, Sinta mengapresiasi peran Tastura Mengajar yang sejak 2020 aktif mendampingi anak-anak di Panggel. Ia menilai semangat belajar tetap tinggi meski menghadapi berbagai keterbatasan.
“Langkah kaki ini membawa kami pada realitas yang menguatkan hati. Anak-anak di sini menempuh pendidikan dengan perjuangan yang tidak ringan. Jalan panjang dan medan terjal menjadi bagian dari keseharian mereka,” ungkapnya. Ia menambahkan, “Justru dari sini terlihat tekad yang kuat, bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar,” tutupnya.

