30.5 C
Mataram
Rabu, 14 Januari 2026
BerandaEkonomiRealisasi Investasi NTB Capai 69,44 Persen di Triwulan Kedua

Realisasi Investasi NTB Capai 69,44 Persen di Triwulan Kedua

Mataram (Inside Lombok) – Realisasi investasi hingga triwulan kedua yaitu mencapai 69,44 persen. Lima sektor pendongkrak investasi di Kota Mataram dan paling besar realisasinya dari sektor transportasi, gudang dan komunikasi.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Mataram Amiruddin, mengatakan lima sektor yang mendongkrak investasi di Kota Mataram yaitu transportasi, gudang dan komunikasi dengan realisasi sebesar 39,12 persen atau Rp684 miliar lebih. “Ini yang besar itu XL Axiata itu besar investasinya. Itu investasinya itu sampai Rp600 miliar,” katanya Rabu (30/7) siang.

Selain itu, sektor kedua yaitu konstruksi dengan capaian sebesar 8,50 persen atau Rp148 miliar lebih. “Itu ada perumahan yang paling banyak. Masih ada empat perumahan ini yang belum masuk dan sudah mengajukan izin karena masih belum memenuhi syarat,” katanya.

Sektor ketiga penyumbang investasi yaitu perdagangan reparasi dengan capaian sebesar 6,94 persen atau Rp121 miliar lebih. “Ada fluktuasi. Triwulan kedua itu kurang dan yang banyak itu triwulan pertama,” katanya.

Investasi lainnya bersumber dari treatment air, treatment limbah, treatment dan pemulihan material sampah dan aktivitas remediasi. Capaian sektor ini sebesar 6,36 persen atau Rp111 miliar lebih. Sektor kelima dengan nilai investasi yang cukup tinggi yaitu 5,33 persen atau Rp93 miliar. “Ini triwulan kedua 69,44 persen realisasi kita,” katanya.

Sementara untuk target investasi di Kota Mataram tahun 2025 ini yaitu sebanyak Rp1,7 triliun. Hingga akhir tahun 2025, target ini diprediksi akan tercapai melihat geliat investasi terus meningkat di ibukota Provinsi NTB ini. “Ini ada yang sudah masuk di industri makanan. Kacang Garuda juga ada yang mau masuk dan saya yakin optimis masuk,” katanya.

Untuk investasi di sektor perhotelan sambung Amir tahun ini tidak ada. Namun investasi yang masuk banyak dari sektor-sektor lainnya. “Tidak ada hotel, tapi yang lain banyak yang masuk. Dan banyak penyumbangnya. Terbesar itu perdagangan dan jasa,” tegasnya. (azm)

- Advertisement -

Berita Populer