25.5 C
Mataram
Sabtu, 13 April 2024
BerandaBerita UtamaBahan Bacaan Berbasis Lokal Anak Masih Minim, Guru di Loteng Dilatih Membuat...

Bahan Bacaan Berbasis Lokal Anak Masih Minim, Guru di Loteng Dilatih Membuat Cerita Ilustrasi

Lombok Tengah (Inside Lombok) – Belasan guru dan pengawas sekolah di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah (Loteng) dilatih membuat cerita ilustrasi dan narasi bahan bacaan anak berbasis cerita lokal, Selasa (28/2/2023). Kegiatan yang dilaksanakan di kantor UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Pujut tersebut dilakukan untuk menyikapi masih minimnya bahan bacaan untuk mendukung pembelajaran anak di kelas, khususnya yang berbasis lokal.

“Jadi ini pelatihan membuat ilustrasi dan cerita untuk buku anak khususnya untuk bacaan anak di level pemula untuk belajar membaca. Untuk menyediakan buku bacaan yang dibuat sendiri oleh guru dengan karakter yang dekat dengan anak,” kata perwakilan Konsorsium NTB Membaca (KNTBM), Azhar Zaini selaku pemateri.

Dikatakan, bahan bacaan anak berbasis lokal yang dimaksud diantaranya adalah karakter yang dekat dengan anak atau yang dikenali oleh anak seperti nyale atau cacing laut. Bahan bacaan berbasis lokal seperti itu selama ini tidak ada yang dijual di toko. Sehingga guru diharapkan bisa menyediakan bahan bacaan yang dibuat sendiri oleh guru.

“Lewat pelatihan ini ingin memberikan pengertian kepada guru bahwa mereka bisa membuat sendiri buku bacaan,” ujarnya.

- Advertisement -

Cerita ilustrasi dan narasi yang dibuat oleh para guru nantinya bisa dicetak atau dalam bentuk elektronik. “Pelatihannya ini adalah cara membuat gambar, karakter dan menyusun cerita sederhana dengan karakter yang sudah dibuat,” jelasnya.

Selain itu, buku bacaan yang dibuat oleh guru juga disesuaikan dengan level kemampuan anak didik. Kalau bagi anak yang belum bisa membaca atau yang berada di level pemula, maka buku bacaan yang dibuat harus menggunakan kata yang mudah dipahami oleh anak. Begitu pula dengan bacaan untuk anak yang sudah mengenal huruf dan kalimat.

Sementara itu, salah satu peserta, Haerul Anam mengaku mengalami kesulitan di dalam menentukan karakter di dalam cerita yang akan dibuatnya terutama buku bacaan untuk anak level pemula atau yang belum bisa membaca. Meski demikian, dia mengaku kalau kegiatan tersebut sangat membantu di dalam menguatkan kapasitas guru di dalam mengembangkan bacaan berbasis lokal.

“Saya membayangkan kalau buku ini sudah terbit, kita tidak perlu lagi menggunakan buku lain karena kita sudah punya buku panduan yang sesuai dengan karakter anak didik kita,” katanya. Diakui, selama ini buku bacaan yang ada di sekolah menggunakan teks yang panjang dan tulisannya juga kecil. Sehingga tidak efektif bagi peserta didik.

Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Loteng, Syafrudin berharap kalau pelatihan tersebut tidak hanya sekedar pelatihan saja. Tapi bisa ditindaklanjuti oleh para guru dengan membuat buku bacaan. Untuk biaya pengembangan buku itu, lanjut Syafrudin bisa diusulkan kepada kepala sekolah untuk didanai melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

“Kemudian kegiatan serupa diharapkan dilakukan juga di kecamatan lain,” pungkasnya. (fhr)

- Advertisement -

Berita Populer