Berkreasi di Tengah Pandemi, Kerajinan Tanah Liat Dibuat Semakin Menarik

Kerajinan gerabah tanah liat yang diubah menjadi berbagai bentuk yang menarik, di Pringgasela, Rabu (09/12/2020). (Inside Lombok/M.Deni Zarwandi).

Lombok Timur (Inside Lombok) – Kerajinan tanah liat kini mulai tergerus keberadaannya oleh zaman. Seperti yang terlihat pada desa-desa yang menjadi sentra kerajinan gerabah tersebut semakin hari semakin sepi peminat. Hingga beberapa pengrajin beralih pekerjaan lantaran sepinya peminat kerajinan tanah liat.

Agar kerajinan gerabah tetap eksis di zaman millenial ini, beberapa pengrajin gerabah di Dusun Aikdewa Utara, Desa Aikdewa, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, membentuk kerajinan yang biasa saja menjadi kerajinan yang sangat unik dan menarik. Seperti membuat kerajinan gerabah dengan tokoh kartun dan buah. Agar bisa menjadi pemantik minat masyarakat bahwasanya kerajinan gerabah juga bisa mengikuti zaman.

Seperti yang diungkapkan Ketua Kelompok Pengrajin Tanah Liat Cahaya Pelita, Istiqomah mengatakan, berawal dari sepinya minat masyarakat terhadap kerajinan gerabah yang bentuknya masih biasa saja, seperti cobek, pot, tungku masak, dan lain-lain. Hal itu membuatnya dan kelompoknya harus berpikir keras agar bagaimana kerajinan tersebut tetap eksis.

“Dari sana kita mencoba membuat kerajinan gerabah menjadi berbagai bentuk, seperti tokoh kartun, buah, dan juga hewan,” jelasnya kepasa Inside Lombok, Rabu (09/12).

Dikatakan Istiqomah, dengan membuat bentuk buah, kartun, dan juga hewan tersebut, kini ia mulai mendapat pesanan baik dalam daerah maupun luar daerah. Ia membuat bentuk yang di mana banyak diminati kalangan remaja saat ini, seperti kartun hello kitty, minion, dan juga doraemon.

“Saat ini yang paling banyak diminati yaitu karakter kartun, kebanyakan sih para cewek-cewek yang pesan,” katanya.

Celengan dengan berbagai bentuk dan karakter membuat kerajinan ini bisa diminati sampai luar negeri, seperti halnya para wisatawan yang mengunjungi sentra kerajinan tersebut yang berasal dari Malaysia, Taiwan, Arab Saudi dan juga Singapura.

“Awalnya mereka datang ke sini cuma membeli satu, tapi ketika ia sudah sampai negaranya dia minta banyak untuk dikirim,” terangnya.

Akan tetapi, di masa Pandemi ini para pengrajin tidak bisa berbuat banyak untuk mengirim hasil kerajinan mereka ke luar daerah, dan juga SDM yang masih rendah terhadap bagaimana cara mengirim barang mereka ke luar daerah sangat berpengaruh.

“Kita masih bingung bagaimana mengirim kerajinan kita ke luar daerah maupun luar negeri,” cetusnya.