BMKG Bantah Kemarau NTB Sebabkan Kekeringan Parah

Data sebaran hujan di NTB untuk dasarian tanggal 20 Juni 2019 (Inside Lombok/Stasiun Klimatologi Lombok Barat)

Mataram (Inside Lombok) – Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa akan terjadi kemarau yang lebih kering dari tahun sebelumnya di wilayah Indonesia bagian timur. Hal tersebut berdasarkan perhitungan yang dilakukan BMKG yang menunjukkan kemungkinan semakin menurunnya curah hujan di wilayah timur.

Menambahkan informasi tersebut, Stasiun Klimatologi Lombok Barat membenarkan bahwa musim kemarau kali ini memang bisa dikatakan lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya. Namun informasi tersebut masih perlu dikoreksi sedikit terkait pembayangan yang timbul di masyarakat.

“Kalau (dikatakan) kemaraunya lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya, saya membenarkan. Tapi koreksi sedikit. Kemarau saat ini (memang) lebih rendah dari normalnya. Tapi El Niño saat ini sebenarnya tidak parah,” ujar Forecaster Stasiun Klimatologi Lombok Barat, I Gede Widi Hariarta, saat ditemui di ruangannya, Selasa (25/06/2019).

Kondisi tidak parah yang dimaksud Widi sendiri adalah pantauan dinamika atmosfer dari El Niño, MJO (Madden-Julian Oscillation, Red), atau suhu permukaan air laut sebenarnya tidak sampai separah di tahun 1968. Walaupun begitu, Widi membenarkan bahwa curah hujan pada kemarau tahun ini memang ada di bawah normal.

“Saat ini memang di bawah normal, artinya lebih kering dari biasanya,” ujar Widi.

Diterangkan Widi BMKG sendiri menentukan rata-rata curah hujan normal dengan membandingkan data selama 30 tahun terakhir. Berdasarkan dinamika atmosfer di Indonesia secara umum, maka NTB masuk dalam daerah subsiden atau daerah kering. Namun Widi meragukan bahwa kekeringan yang terjadi akan sangat parah.

“Kekeringan parah mungkin tidak. Kondisi untuk di Pulau Lombok kadar air tanah masih cukup. Karena itu tidak terlalu berimbas parah. Tapi untuk wilayah Sumbawa dan bima mungkin akan lebih kering,” ujar Widi.

Hal tersebut karena berdasarkan data Hari Tanpa Hujan (HTH), sebagian besar wilayah Pulau Lombok masih mendapat hujan dalam kurun waktu 6-10 hari. Sedangkan untuk wilayah Pulau Sumbawa, terutama di bagian timur pulau tidak mendapat hujan dalam jangka waktu mencapai 2 bulan lamanya.

Sebagai contoh Widi menyebutkan bahwa di wilayah Narmada hujan masih turun dengan sebaran 20-30 mm2 dalam kurun waktu 6-10 hari. Normalnya wilayah narmada memiliki sebaran hujan mencapai 50 mm2, sehingga kondisi tersebut menandakan kemarau yang berada di bawah normal namun tidak sampai menyebabkan kekeringan.

NTB sendiri telah masuk musim kemarau sejak pertengahan Mei. Diterangkan Widi musim kemarau tersebut masih akan berlangsung sampai dengan bulan November mendatang.

“Menurut prediksi kita, karena belum diadakan rekonsiliasi untuk memasuki musim hujan, kita masih pakai prediksi kita sendiri. Untuk di wilayah NTB, kita prediksi masuknya di November (musim hujan, Red,” pungkas Widi.