BWS: Sembilan Bendungan di NTB dalam Level Awas

Volume air di bawah minimum level operasi di salah satu bendungan di Pulau Sumbawa, NTB, yang sudah semakin berkurang pada musim kemarau. (Inside Lombok/ANTARA/HO/BWS Nusra/Awaludin) 

Mataram (Inside Lombok) – Kepala Seksi Operasi dan Pemeliharaan Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara Gde Suardiari menyatakan sembilan bendungan besar di Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam level awas karena volume air yang tersedia tidak bisa untuk mengairi persawahan.

“Kondisi di lapangan sudah level merah. Tidak ada jalan lain, kita tutup dari pada struktur bendungan bahaya,” kata Gde di Mataram, Rabu.

Ia menyebutkan dari sembilan bendungan besar tersebut, enam diantaranya tersebar di Pulau Sumbawa, dan tiga bendungan tersebar di Pulau Lombok.

Enam bendungan yang ada di Pulau Sumbawa, yakni Bendungan Batu Bulan, Mamak, Tiu Kulit, Gapit, Pelaparado, dan Sumi. Sedangkan tiga bendungan besar di Pulau Lombok, yakni Bendungan Batujai, Pengga, dan Pandan Duri.

Ada juga dua bendungan besar di Pulau Sumbawa yang baru beberapa bulan diresmikan, namun belum operasional karena masih menunggu izin operasional dan dalam tahap pengisian air. Dua bendungan tersebut, yakni Bendungan Tanju, dan Mila, di Kabupaten Dompu.

Selain bendungan besar, NTB juga memiliki 61 embung skala bendungan. Semuanya tersebar di Pulau Lombok, dan Pulau Sumbawa.

Gde menjelaskan seluruh bendungan tersebut dalam kondisi awas karena volume airnya sudah berada di bawah minimum level operasi untuk mengairi persawahan. Kondisi tersebut juga disebabkan penguapan air pada musim kemarau yang cukup ekstrem saat ini.

“Faktor suhu panas juga mempengaruhi penguapan air bendungan. Penguapannya mencapai lima milimeter per hari dari total luas genangan,” ujarnya.

Menurut dia, jika sisa volume air yang ada di dalam tubuh bendungan digunakan, bisa mengancam konstruksi bendungan berupa terjadinya pecahan-pecahan pada dinding bangunan. Jika itu terjadi, bisa menyebabkan rembesan air hingga kebocoran yang pada akhirnya meruntuhkan bangunan ketika bendungan sudah terisi penuh pada musim hujan.

Oleh sebab itu, pihaknya melakukan pengawasan secara ketat di seluruh bendungan.

BWS Nusa Tenggara juga sudah melakukan sosialiasi kepada masyarakat petani melalui koordinator bendungan, dan petugas operasi, pemeliharaan, pemantauan dan keamanan kawasan bendungan.

Gde menambahkan pihaknya berkoordinasi dengan para pengamat irigasi untuk memberikan penjelasan tentang kondisi bendungan kepada petani di wilayah masing-masing.

“Selain sosialiasi, kami juga sudah memberikan bantuan pompa air untuk daerah-daerah yang dilanda kekeringan. Pompa air tersebut dimanfaatkan untuk menyedot sisa air buangan untuk menyelamatkan tanamannya. Misalnya di sungai yang masih ada sedikit air bisa dimanfaatkan,” terangnya. (Ant)