Cilok Pejabat’ Viral di Mataram Menarik Perhatian Menparekraf

615
Penjual cilok pejabat sedang melayani pembeli. (Inside Lombok/Azmah)
IMG 20210731 WA0012
Penjual cilok pejabat sedang melayani pembeli. (Inside Lombok/Azmah)

Mataram (Inside Lombok) – Cilok pejabat mulai viral di media sosial. Bukan hanya karena namanya saja, tetapi penampilan penjual cilok yang sudah mirip pejabat.

Konsep unik tersebut menarik perhatian Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno. Sehingga direncanakan, pada Senin (2/8) mendatang dirinya akan melakukan video call dengan menteri pariwisata.

“Tadi Pak Taufan Rahmadi kasih informasi bahwa cilok pejabat tembus ke telinganya menteri pariwisata. Besok Insya Allah hari Senin VC ditempat lapak itu. Mudahan lah usaha saya ini mungkin masyarakat bisa mengikuti dan menggerakkan UMKM di NTB,” ungkap Lutfi Ramli yang penjual cilok pejabat.

Ia mengatakan, sejak penerapan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 di Kota Mataram, pendapatan yang diperoleh menurun drastis. Usaha cilok yang digeluti sudah hampir 8 tahun. Di mana, pendapatan sehari Rp 200 ribu perhari.

“Jualan cilok 8 tahun. Ide ini muncul dua minggu yang lalu. tanggal 21 Juli. Sebelum mangkal di salah satu Alfamart. Saya keliling Kelurahan Punia. Modal 300-400 perhari. Pendapatan Alhamdulillah sudah lonjak drastis luar biasa sekarang. Daripada sebelum-sebelumnya biasanya 2 kg kalau sekarang 4 kg kadang 5 kg. Alhamdulillah,” ujarnya.

Konsep cilok pejabat yang diterapkan agar lebih unik dan berbeda dengan pedagang cilok pada umumnya. Ide yang diterapkan, sejauh ini memberikan keuntungan yang cukup besar.

“Idenya dari kakak. kan kakak buka salon kan, dia pernah lihat pedagang cilok gunakan kostum badut, pocong gitu kan dan berhubung adek kan di lingkungan sebagai pejabat kepala lingkungan Karang Kateng Kelurahan Punia,” ujarnya.

Ia juga akan mencoba menggunakan baju adat sasak selain pakaian pejabat. Namun, jika pakaian pejabat lebih menguntungkan, maka akan konsisten mengunakan konsep tersebut.

“Selain baju pejabat pakai baju adat sasak,” pungkasnya.