Coba Dikembangkan di NTB, Investasi Cabai Jamu Bisa “to The Moon”

108
Cabai Jamu ( Image source : Greeners.co)

Mataram (Inside Lombok) – Belum maksimalnya garapan potensi investasi bidang pertanian menjadi perhatian Pemprov NTB. Padahal banyak investor yang melirik potensi tersebut. Salah satunya pengembangan investasi pertanian cabai jamu atau cabai Jawa yang cukup menjanjikan.

“Pengembangan tanaman cabai jamu, itu (ada) di Sedau, Lombok tengah,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB, Muhammad Riadi, Jumat (24/12).

Cabai jamu merupakan tanaman rempah-rempah, sama halnya dengan tanaman vanili. Sayangnya, di NTB belum ada yang melakukan pengembangan tanaman rempah-rempah tersebut.

Menurut Riadi, peluang tersebut dapat digarap dan dikembangkan di NTB. Melihat di lapangan sektor pertanian sangat menjanjikan untuk berinvestasi, sehingga investor tertarik.

Untuk menarik investor, Distanbun NTB telah berdiskusi dengan beberapa pihak di pusat. Hasilnya, investasi cabai jamu telah menarik hati investor lokal asal Surabaya.

“Investor ini sudah saya bawa ke lapangan, mereka senang. Tinggal kita siapkan bibitnya untuk cabai jamu,” ucapnya. Diterangkan, untuk bibit cabai jamu per satu polybag harganya Rp10 ribu di Pulau Jawa.

Jika didatangkan ke NTB, harga bibit cabai tersebut menjadi Rp12 ribu, lantaran ada biaya transportasi. Agar penggarapannya maksimal, NTB dinilai perlu menjajaki penyediaan bibit dan lahan komoditas tersebut. Dengan begitu dapat menghemat biaya transportasi yang dibutuhkan.

“Semuanya kita siapkan di sini. Misalnya saja banyak dibutuhkan kalau dikalikan sekian bibit, sudah besar nilainya. Sehingga berputar di sini uangnya dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” terangnya.

Diterangkan, saat ini sektor pertanian dan perkebunan tengah banyak dilirik untuk dikembangkan. Seperti vanili yang sangat bagus potensinya di NTB, apalagi termasuk dalam tanaman rempah-rempah. Bahkan pihaknya pertengahan Desember ini akan ada FGD (Forum Group Discussion) di Medan.

“Pasar dunia lagi tren itu salah satunya cabai jamu, dan itu belum ada di sini. Makanya kita budidayakan secara baik,” pungkasnya. (dpi)