Dampak Kekeringan Meteorologis di NTB, Perigi Lotim 58 Hari Tanpa Hujan

22
Ilustrasi kekeringan (Image source : Viva)

Mataram (Inside Lombok) – Wilayah NTB perlu mengantisipasi dampak kekeringan pada periode puncak musim kemarau tahun ini. BMKG Stasiun Klimatologi NTB mencatat curah hujan di wilayah NTB pada dasarian III Juli 2022 seluruhnya masuk dalam kategori rendah, di mana beberapa wilayah sudah terpantau mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan kategori sangat panjang yaitu 31 – 60 hari.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat, Nindya Kirana dan Cakra Mahasurya Atmojo Pamungkas menerangkan HTH terpanjang terpantau terjadi di wilayah Perigi, Kabupaten Lombok Timur sepanjang 58 hari. Sedangkan wilayah lainnya secara umum masuk kategori HTH menengah 11-20 hari hingga panjang 21 – 30 hari.

Curah Hujan tertinggi tercatat terjadi di pos hujan Selong Belanak, Kabupaten Lombok Tengah sebesar 10 mm/dasarian. Sifat hujan pada dasarian III Juli 2022 di wilayah NTB didominasi kategori bawah normal (BN), namun sifat hujan atas normal juga terjadi di sebagian Kabupaten Lombok Barat bagian selatan, Lombok Tengah bagian selatan, serta sebagian kecil pesisir Lombok Timur bagian selatan.

“Peluang curah hujan pada dasarian I Agustus 2022 sudah semakin berkurang. Peluang curah hujan dengan intensitas <20 mm/dasarian terjadi merata di seluruh wilayah NTB dengan probabilitas >80 persen,” ujarnya.

Kondisi ini menyebabkan bencana kekeringan meteorologis yang kerap melanda NTB di musim kemarau terpantau mulai terjadi di sebagian wilayah. Peringatan dini kekeringan meteorologis pada level SIAGA terdapat di Kecamatan Wawo, Bolo, Soromandi (Kabupaten Bima), Kecamatan Pringgabaya, Sambelia, Sakra Barat dan Suela (Kabupaten Lombok Timur), Kecamatan Buer, Labuhan Pandan dan Lape (Kabupaten Sumbawa), Kecamatan Maluk (Kabupaten Sumbawa Barat), serta Kecamatan Huu dan Kilo (Kabupaten Dompu).

Sementara itu pada level WASPADA terdapat di Kecamatan Dompu, Kempo, Manggelewa, Pajo dan Woja (Kabupaten Dompu), Kecamatan Bolo, Lambitu, Lambu, Madapangga dan Palibelo (Kabupaten Bima), Kecamatan Raba dan Rasanae Timur (Kota Bima), Kecamatan Gerung dan Lembar (Kabupaten Lombok Barat), Kecamatan Janapria, Jonggat, Praya Barat Daya, Praya Tengah dan Pujut (Kabupaten Lombok Tengah), Kecamatan Jerowaru, Labuhan Haji, Masbagik, Montong Gading, Sikur dan Sukamulia (Kabupaten Lombok Timur), serta Kecamatan Batulanteh, Empang, Labangka, Lenangguar dan Moyo Utara (Kabupaten Sumbawa).

“Memasuki periode puncak musim kemarau 2022, masyarakat perlu mewaspadai akan terjadinya bencana kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga suhu dingin yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari,” lanjutnya.

Namun demikian, masyarakat juga tetap perlu mewaspadai adanya potensi cuaca ekstrem bersifat lokal seperti terjadinya angin kencang dan hujan yang terjadi secara tiba-tiba. Masyarakat juga dihimbau untuk dapat mengantisipasi terjadinya potensi kekeringan dengan membuat tampungan air terutama pada wilayah yang rentan. (r)