Desa Badrain Langganan Puting Beliung, Pemda Perlu Siapkan Mitigasi

Lombok Barat (Inside Lombok) – Bencana Puting beliung yang merusak setidaknya ada 47 rumah di desa Badrain Narmada, memerlukan kajian langkah antisipasi dari pihak terkait. Ini sebagai upaya sigap bencana untuk mengurangi risiko dampak dari bencana tersebut.

Salah seorang korban, Masuniatun mengatakan bahwa ketika angin puting beliung tersebut datang, dirinya justru kebingungan bagaimana cara untuk menyelamatkan diri dan anaknya. Hingga dirinya sempat tertimpa spandek yang diterbangkan angin.

“Kita kan mau keluar, tapi anginnya kencang dan karena saya punya bayi, takutnya kena debu, jadi saya bawa masuk. Tapi di dalam rumah kita malah di putar dan saya sempat tertimpa atap” tuturnya terbata-bata, saat ditemui di tenda pengungsian, Kamis (01/10/2020).

Dirinya pun mengaku, walau tidak ada anggota keluarganya yang mengalami luka serius, namun dirinya dan anaknya masih merasa trauma.

“Yang luka lecet itu cuma punggung aja sama tangan, cuman anak-anak saya itu trauma” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Lombok Barat, Mahnan, bahwa bencana alam puting beliung memang tidak dapat dideteksi terkait waktu maupun kekuatan anginnya.

“Tetapi yang bisa kita lakukan adalah mitigasi untuk meminimalisir dampak dari angin puting beliung ini” kata Mahnan saat dimintai keterangan melalui sambungan telepon, Jum’at (02/10/2020).

Dirinya menyebutkan, deteksi dini yang selama ini sudah ada hanya deteksi dini untuk banjir dan longsor, melalui alarm yang bisa berbunyi kapan saja. Tetapi untuk puting beliung, belum ada.

“Sehingga untuk evakuasi, kita sudah menggagas desa tangguh bencana di Lombok Barat, itu ada di beberapa desa” jelasnya.

Sehingga dalam gagasan desa tangguh bencana tersebut diharapkan mampu sebagai wadah untuk berbagi sosilasasi mengenai pemahaman untuk mitigasi bencana.

“Nah ini kita lakukan dengan memberi sosialisasi kepada masyarakat melalui keluarga tangguh bencana” imbuhnya.

Di mana dalam keluarga tangguh bencana ini, masyarakat diharapkan mampu memahami bagaimana mitigasi bencana, termasuk cara evakuasi diri ketika terjadi bencana didaerahnya.

“Dengan tujuan minimal dia bisa membantu dirinya dan keluarganya”  kata kepala pelaksana BPBD Lobar ini.

Mahnan pun mengakui, namun hingga saat ini, sosialisasi mengenai keluarga tangguh bencana tersebut masih baru seputar wilayah yang rawan tanah longsor. Tetapi hal tersebut belum optimal hingga dapat menyentuh daerah rawan angin puting beliung.

“Angin puting beliung ini memang trend nya itu kejadiannya berulang di suatu wilayah. Tetapi hal ini yang perlu kita mitigasi dan cermati” tukasnya.

Banyaknya rumah yang mengalami kerusakan dalam musibah angin puting beliung tersebut, juga karena faktor konstruksi rumah yang didesain untuk rumah yang tahan terhadap getaran gempa.

Karena semenjak terjadinya gempa 2 tahun silam, banyak masyarakat yang awalnya atapnya menggunakan genteng tanah. Kini beralih menggunakan genteng yang beratnya lebih ringan, seperti spandek. Tetapi ternyata hal tersebut, kata Mahnan, justru rentan juga mengalami kerusakan apabila diterjang puting beliung, seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu.

“Nah ini bagaimana menyikapi ini? Satu sisi kita ingin tahan gempa, disisi lain kita ingin tahan angin puting beliung. Sehingga pengamatan semacam ini harus kita analisa” tegasnya.

Baik itu analisa mengenai standar tingkat kekuatan dalam pengikatan spandek yang bisa digunakan, misalnya.

“Nanti itu akan menjadi kajian kita dari sisi konstruksi, dan juga analisa kita di lapangan akan kita cermati bersama dengan OPD terkait yang paham mengenai konstruksi dan standar kelayakan rumah” pungkasnya.

Tetapi untuk tanggap darurat bagi para korban puting beliung di desa Badrain, saat ini kata Mahnan, yang menjadi hal utama adalah para korban dapat berlindung dulu di rumahnya. Karena terpal yang diberikan kemarin masih sebagai solusi jangka pendek.