Dua Warga Meninggal Karena DBD, Kuripan Gencar Berantas Sarang Nyamuk

Lombok Barat (Inside Lombok) – Terus bertambahnya kasus DBD di Lombok Barat yang sudah mencapai 83 kasus. Sementara untuk kasus kematian sendiri sudah tiga orang, masing-masing pasien berasal dari Gerung dan Kuripan.

Pihak Kecamatan Kuripan bersama dengan pihak terkait lainnya menjadikan hal tersebut sebagai atensi serius dengan menggalakkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Ini dilakukan dengan menggunakan peralatan hasil rakitan dari IKM (Industri Kecil Menengah) setempat.

Forkompimcam bersama pihak desa, dan dibantu juga oleh Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat mulai melakukan gerakan bersama untuk memberantas sarang nyamuk di wilayah tersebut.

Tidak sampai disitu, bahkan pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Kuripan pun berinisiatif untuk merakit alat fogging sederhana. Guna mempermudah warga dalam membasmi sarang nyamuk yang dikhawatirkan akan semakin berkembang biak itu.

“Sebagai upaya untuk memberantas, dari awal kita sudah bergerak melakukan penanganan bersama tim Forkompimcam, puskesmas dan desa” beber Camat Kuripan, Iskandar, pada Selasa (16/03/2021).

Gerakan Bersama (Gebrak) PSN ini pun sudah mulai berjalan di desa Giri Sasak, diawali di Dusun Lendang Sedi. Gebrak PSN ini, jelas dia, akan terus dilakukan di semua desa melalui kegiatan Jumat bersih. Pihaknya sendiri berupaya menghidupkan gotong royong melalui kegiatan Jumat bersih di semua desa.

Di mana sebelumnya, pihak dari Dikes pun sudah memberi penegasan kepada masyarakat bahwa untuk memberantas DBD. Hal paling utama yang perlu dilakukan adalah memberantas sarang nyamuk. Yang dapat juga dilakukan dengan mulai menggalakkan kembali budaya gotong royong di lingkungan setempat.

Di tempat yang sama Kades Kuripan Hasbi mengatakan, dalam penanganan DBD itu, pihak desa turut juga memberdayakan IKM yang dapat membuat alat fogging.

“Dalam rangka memberdayakan IKM, Kami dari desa mendukung dari sisi anggaran” jelasnya.

Anggaran yang digelontorkan oleh desa kepada IKM untuk membuat alat fogging tersebut sebesar Rp 1.5 juta. Itu dinilai masih terjangkau bila dibanding dengan alat Fogging yang digunakan oleh Dikes, yang harganya jauh lebih mahal.

Sehingga kemampuan IKM setempat untuk membuat alat fogging sederhana tersebut diapresiasi oleh Hasbi. Karena dengan adanya alat itu, pihak desa dan kecamatan pun dapat bergerak sendiri untuk melalukan fogging. Sedangkan bahan-bahan untuk Fogging, mereka meminta bantuan dari Dikes.

“Ini bentuk kepedulian warga kami untuk menangani DBD” tandas Hasbi.

Sementara itu, Kepala Dikes Lobar, Hj. Ni Made Ambaryati mengatakan gerakan PSN yang dilakukan kecamatan dan desa sangat membantu dalam penanganan DBD. Terlebih lagi jika melihat angka Kasus kematian pasien DBD yang sudah mencapai tiga orang di awal tahun ini. Walaupun jumlah itu dinilai masih lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Kalau tahun lalu itu ada enam Kasus meninggal pada periode yang sama, sedangkan tahun ini ada tiga kasus” ungkapnya.

Tetapi, kata Ambar, antisipasi dan pencegahan perlu dilakukan supaya dapat menekan dan mengendalikan lonjakan kasus DBD yang mengakibatkan Lombok Barat masuk dalam 10 daerah dengan kasus DBD terbanyak di Indonesia.