Gubernur NTB Resmikan Jembatan Dasan Agung Mataram

Mataram (Inside Lombok) – Gubernur Nusa Tenggara Barat DR H Zulkieflimansyah, meresmikan Jembatan Dasan Agung Kecamatan Selaparang, yang menjadi penghubung dengan Kelurahan Kebon Sari, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.

Peresmian jembatan tersebut ditandai dengan pengguntingan pita oleh gubernur didampingi Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh dan Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana, dirangkaikan dengan pencanangan sekolah dengan lingkungan sampah nihil (Lisan) di pinggir Kali Jangkuk, Kota Mataram, Jumat.

Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh dalam kesempatan itu mengatakan, pembangunan jembatan dengan total anggaran hampir Rp3 miliar itu merupakan jembatan yang ditunggu-tunggu warga untuk mempermudah mobilisasi masyarakat di dua kelurahan itu.

“Sebenarnya, kami sudah merencanakan bukan seperti jembatan ini melainkan membuat sungai bendung aktif,” katanya di hadapan Gubernur NTB.

Sungai bendung aktif yang dimaksudkan adalah di bagian atas tetap berfungsi jembatan, tujuannya ketika musim kering seperti ini bagaimana airnya tetap ada dan bisa dimanfaatkan masyarakat dan aktivitas ekonomi.

Untuk bisa merealisasi itu, pemerintah kota telah mengundang seorang profesor ahli bendung dari Semarang dan langsung melakukan pemantauan.

“Harapannya, selain menjadi sumber air baku juga bisa menjadi sarana rekreasi masyarakat dan dimanfaatkan ekonomi masyarakat. Tapi dari Balai Wilayah Sungai (BWS) tidak mengizinkan karena ada siklus banjir 10, 20 dan 40 tahun,” katanya.

Karena itulah, pemerintah kota memutuskan untuk membangun jembatan namun ke depannya akan dijadikan ikon Kota Mataram, sebagai salah satu spot swafoto masyarakat.

“Karena itulah, kami membangun jembatan ini berbeda dengan jembatan-jembatan lainnya dan melengkapi dengan berbagai aksesori lampu hias untuk mempercantik jembatan terutama di malam hari,” katanya.

Sementara Gubernur Nusa Tenggara Barat DR H Zulkieflimansyah, dalam kesempatan itu tidak terlalu banyak menyinggung masalah jembatan, melainkan kebersihan di sepanjang sungai.

“Kita ingin sepanjang sungai ini bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk aktivitas ekonomi masyarakat, untuk itu kebersihan menjadi faktor pendukung utama,” katanya.

Gubernur mengakui, penanganan sampah memang tidak mudah karena harus merubah pola pikir masyarakat, agar mengerti cara pandang dan tidak cukup dengan upacara-upacara dan pidato dan khutbah Jumat.

“Tetapi cara pandangnya harus mengubah pola pikir masyarakat, inilah yang perlu dilakukan melalui berbagai program pemberdayaan dan edukasi masyarakat,” katanya. 3 (Ant)