Hobi Main PS Sejak Kecil, Ashghar Azizi Wakili Asia Main Game di Kejuaran Dunia

1170
Atlet esport, Ashghar Azizi saat mengikuti piala presiden beberapa waktu lalu. (Inside Lombok/ist)

Mataram (Inside Lombok) – Hobi bermain Playstation (PS) sejak kecil ternyata bisa membawa keberuntungan bagi Ashghar Azizi. Saat ini pemuda asal Dasan Agung Kota Mataram itu akan bertanding di kejuaran dunia eFootball Mobile.

“Kalau mobile-nya ini baru, tapi yang lama itu PS. Karena melihat mobile-nya lebih ramai, jadi pindah ke mobile. Kalau main game itu dari kecil, dari SD itu hobi,” kata Ashghar saat dihubungi Inside Lombok, Selasa (2/8). Dari hobinya bermain game tersebut, ia saat ini resmi menjadi atlet esport NTB yang telah bertanding, bahkan hingga tingkat internasional.

Ia mengatakan, untuk bisa ikut bertanding pada kejuaraan dunia, sudah meraih juara tiga nasional untuk wilayah Indonesia Timur pada 2019 dan pada 2020 meraih juara dua wilayah Indonesia Timur. “eFootball masih baru dia. Baru ganti nama dia,” katanya.

Kejuaran esport sudah ditekuni sejak beberapa tahun terakhir sebelum pandemi Covid-19. Bahkan setiap tahun ada kejuaran nasional. Namun khusus untuk efootball baru setahun terakhir. “Kalau ikut kejuaran dunia ini ikut sendiri, tapi ada dukungan dari (tim) esport kita juga,” katanya.

Untuk kejuaran dunia yang akan digelar pada 13 Agustus 2022 mendatang, Ashghar Azizi menargetkan bisa meraih juara. Tahun ini ia memang baru pertama kali bisa lolos untuk kejuaran dunia atau world final. Karena untuk bisa mewakili tingkat Asia, harus melalui sejumlah tahapan.

“Untuk bisa lolos ke world final itu ada step-stepnya. Misalnya harus menang beberapa kali itu. Contohnya pada round satu ada sekitar 4-5 kali menang lah. Ya harus menang segitu untuk awal. Round dua itu harus 15 kali itu. Baru di round tiga yang delapan besar itu, baru diadu yang juara-juaranya,” katanya.

Dari juara yang ada diambil sebanyak dua orang untuk perwakilan Asia. “Saya sama Mujicool (atlet asal India, Red) menjadi dua wakil dari Asia. Melawan dua finalis dari Eropa dan dua finalis dari Amerika Latin. Total sisa enam player di world final,” katanya.

Meski sebelum pandemi Covid-19 kejuaraan dunia eFootball digelar langsung di Jepang, tahun ini pelaksanaannya dilakukan secara online di negara masing-masing asal atlet. “Kalau dulu di tempat buat gamenya. Kalau tahun 2021 dan 2022 ini secara online. Rencananya bakal disupport sama KONI main di Telkom,” ujarnya.

Di sisi lain, Ashghar menaruh perhatian khusus pada iklim esport yang dirasanya masih kurang, baik secara umum di NTB maupun di Kota Mataram. Padahal, jika ditekuni esport tidak kalah dari bidang olahraga lainnya yang memiliki tingkat kompetisi hingga kelas dunia.

Kurangnya perhatian itu terlihat dari sedikitnya turnamen yang digelar di daerah, hanya sebulan sekali. Sedangkan, jika pecinta esport sudah banyak biasanya turnamen digelar setiap minggu. “Kurang di sini. Kalau dibanding di Pulau Jawa itu setiap minggu pun ada turnamennya. Kalau di sini itu dua bulan sekali lah,” ungkapnya. (azm)