Jumlah Pengangguran di NTB Berkurang 1.917 Orang

Tiga orang petani menyirami lahannya yang sudah ditanami bibit bawang merah di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima NTB, pada Minggu (10/3/2019). BPS NTB mencatat sektor pertanian paling besar menyerap tenaga kerja pada Februari 2019, yakni sebanyak 863.456 orang atau 35,86 persen dari total angkatan kerja sebanyak 2.489.388 orang. (Inside Lombok/Antara)

Mataram (Inside Lombok) – Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat mencatat jumlah pengangguran periode Februari 2019 sebanyak 81.293 orang atau berkurang 1.917 jiwa dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

“Tingkat pengangguran terbuka (TPT) NTB pada Februari 2019 turun menjadi 3,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 3,38 persen,” kata Kepala BPS NTB Suntono, di Mataram, Senin (6/5).

TPT adalah indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak digunakan atau tidak terserap oleh pasar kerja.

Menurut dia, berbagai kebijakan pemerintah pusat dan daerah terkait penciptaan lapangan kerja tampaknya cukup berhasil menekan tingkat pengangguran.

“Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, TPT di NTB terus bergerak turun, mulai dari Februari 2017 sebesar 3,86 persen, turun menjadi 3,38 persen pada 2018, dan pada Februari 2019 turun menjadi 3,27 persen,” ujarnya.

Secara keseluruhan, kata dia, jumlah angkatan kerja NTB pada Februari 2019 sebanyak 2.489.388 orang, meningkat 30.367 orang dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penduduk yang bekerja sebanyak 2.408.095 orang, sisanya masih menganggur.

Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) NTB pada Februari 2019 tercatat sebesar 69,62 persen. Angka tersebut masih lebih kecil dibandingkan TPAK tahun lalu sebesar 69,83.

Hal itu menunjukkan perlu terus digalakkannya program penciptaan lapangan pekerjaan.
Suntono menambahkan penurunan TPAK disebabkan kenaikan penduduk yang tergolong bukan angkatan kerja, khususnya penduduk yang sekolah dan melakukan kegiatan lainnya.

“Kenaikan tersebut lebih cepat dibandingkan kenaikan penduduk yang tergolong angkatan kerja,” ucapnya pula.

Ia menyebutkan berdasarkan lapangan pekerjaan utama pada Februari 2019, penduduk NTB paling banyak bekerja pada sektor pertanian, yaitu sebanyak 863.456 orang atau 35,86 persen, disusul oleh sektor perdagangan sebanyak 445.797 orang atau 18,51 persen dan sektor industri pengolahan 204.957 orang atau 8,51 persen.

“Trend lapangan pekerjaan belum ada perubahan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, di mana sektor pertanian masih dominan menyerap tenaga kerja, disusul sektor perdagangan dan perindustrian,” katanya.

Suntono berharap trend penurunan angka pengangguran di NTB, terus berlanjut melalui intervensi program pemerintah pusat dan daerah, khususnya di sektor industri pengolahan karena berpotensi besar menyerap tenaga kerja dalam jumlah relatif banyak. (Ant)