Home Berita Utama Mahfud MD Kampanye Anti Hoaks di Lombok

Mahfud MD Kampanye Anti Hoaks di Lombok

Setda NTB dan Mahfud MD membuka acara Sarasehan Kebangsaan dengan memukul gendang beleq (Inside Lombok/Bayu Pratama)

Mataram (Inside Lombok) – Bersama Gerakan Suluh Kebangsaan, Politisi sekaligus Pakar Hukum Ketahanan Negara, Mohammad Mahfud MD, mengunjungi lombok dalam rangka menghadiri simposium bertajuk Sarasehan Kebangsaan. Dalam simposium tersebut, pembicaraan utamanya tentang ketahanan negara dalam menghadapi berita hoaks beberapa waktu belakangan ini.

“Jangan percaya pada berita-berita atau brosur-brosur tidak bertuan. Terutama dari akun-akun medsos yang tidak jelas. Banyak akun tidak jelas yang kerjanya melempar fitnah lalu lari,” ujar Mantan Menteri Pertahanan periode 2000 – 2001 yang akrab disapa Mahfud MD tersebut dalam pidato pembukanya, Selasa (12/02/2019).

Menurut Mahfud, masa-masa politik saat ini banyak diwarnai dengan politik identitas, dimana kelompok yang satu menyerang kelompok yang lain dengan sama-sama mengklaim sebagai penjaga identitas keindonesiaan yang sebenarnya.

Selain itu, ada juga kecenderungan untuk mencari pemenang dalam persaingan politik, bukan mencari siapa yang paling baik. Dalam hal tersebut isu-isu radikalisme dan rasial juga dimasukkan melalui produksi-produksi berita hoaks.

“Jangan sampai kita menjadikan agama sebagai alat untuk memecah. Memilih atas dasar kesamaan agama itu boleh saja. Tetapi terlalu menuduh orang lain kafir, menuduh agama saya paling benar, menuduh agama kita ini terancam dalam pemilu dan sebagainya saya kira itu tidak bagus,” ujarnya.

Politik Indonesia saat ini memang sedang berada dalam situasi yang cukup panas. Dimana melalui media sosial, bukan hanya orang yang terlibat politik atau masyarakat usia dewasa yang terlibat, namun remaja dan anak-anak juga ikut terbawa arus.

“Saya tidak melihat kedua Capres ini saling ejek. Yang muncul saling ejek itu pendukungnya. Itulah yang kita imbau supaya pendukung-pendukung itu jangan bikin berita hoaks dan jangan memancing pertengkaran,” ujar Mahfud.

Turut hadir dalam simposium tersebut Guru Besar Hukum Perdata Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram sekaligus mewakili Pengurus Nahdlatul Ulama, Prof. Masnun Taher, menerangkan bahwa menyangkut berita hoaks, ada sebuah hadis dari Nabi Muhammad SAW. yang mengatur hal tersebut.

“Itu ada Hadisnya. Kalau muncul hoaks atau berita bohong, saling caci-maki, maka wajib orang yang berilmu, para akademisi, untuk menunjukkan keilmuannya. Kalau mereka tidak melakukan itu, maka Allah dan Malaikat akan melaknatnya,” ujar Masnun.

Sekertaris Daerah Setda Nusa Tenggara Barat (NTB), Rosiady H Sayuti, Ph.D, menerangkan dalam acara tersebut bahwa penting bagi warga negara Indonesia, Khususnya di NTB, untuk tetap menjaga persaudaraan. Tidak mudah terpecah-belah karena perbedaan pendapat.

“Dalam waktu yang semakin dekat pilpres ini, mungkin suasana kebatinan kita makin hangat, tapi tetap kita jaga kepala dingin. Tetap menjaga semangat persaudaraan. Karena siapapun yang kita pilih dalam pemilu sesungguhnya mereka adalah saudara kita,” ujar Rosiady.

Gerakan Suluh Kebangsaan adalah gerakan untuk mengedepankan dialog, menjunjung tinggi kebersamaan, dan menghargai kebinekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang digagas oleh Prof. Mahfud MD, Alissa Wahid, Benny Susetyo, dan Ajar Budi Kuncoro. Lahirnya gerakan tersebut sebagai pendorong kebebasan menentukan pilihan secara demokratis tanpa permusuhan.

Turut hadir dalam simposium tersebut perwakilan dari PBNU NTB, PBNW NTB, Pengurus Muhammadiyah NTB, Kepolisian NTB, Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia, Budayawan Lombok dan Sumbawa, MUI NTB, Dekanat NTB, Kelompok Pemuda Budha, dan lain-lain. Di akhir acara, semua peserta menyatakan dukungannya untuk memerangi hoaks serta tidak menyebar-luaskan berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.