Pembangunan Rusunawa Nelayan di Mataram Tunggu Pencairan Anggaran

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyebutkan kegiatan fisik pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) nelayan tinggal menunggu pencairan anggaran dengan kebutuhan sekitar Rp20 miliar lebih.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) HM Kemal Islam di Mataram, Jumat, mengatakan untuk realisasi pembangunan rusunawa nelayan saat ini hanya tinggal proses pencairan anggaran dari pemerintah.

“Pasalnya, untuk proses tender di tingkat pusat sudah dilaksanakan bahkan pemenangnya pun sudah ada. Jadi, pemenang tinggal menunggu pencairan anggaran pembangunan fisik,” katanya kepada sejumlah wartawan.

Kendati demikian, kata Kemal, pihaknya tidak berani mendesak pemerintah pusat untuk segera melakukan pencairan anggaran sebab kondisi keuangan pemerintah saat ini masih fokus untuk penanganan pandemi COVID-19.

“Jadi, kita bersabar saja dulu. Kalaupun sisa waktu kurang dari 4 bulan ini anggaran bisa cair dan dikerjakan tuntas itu menjadi ranah teknis mereka,” katanya.

Sementara terkait dengan kesiapan lahan dari pemerintah kota, kata Kemal, pada prinsipnya sudah tidak ada masalah.

“Kita sudah melakukan pematangan lahan seluas dua hektare. Jadi, kalaupun anggaran fisik cair dalam waktu dekat, pihak ketiga bisa langsung membangun,” katanya.

Menurutnya, jumlah bantuan rusunawa nelayan didapatkan Pemerintah Kota Mataram sebanyak tiga twin blok atau 174 kamar dengan tipe 36. Jumlah itu bertambah dari rencana awal dua twin blok.

“Semula kita akan mendapatkan bantuan dua twin blok sesuai usulan, tetapi Alhamdulillah realisasi tiga twin blok,” katanya.

Namun demikian, pemerintah Kota Mataram berharap pemerintah bisa menambah lagi jumlah rusunawa nelayan hingga menjadi empat twin blok, sebab berdasarkan data terakhir jumlah nelayan yang akan direlokasi sekitar 300 kepala keluarga (KK).

Nelayan yang akan direlokasi ke rusunawa itu, katanya, adalah nelayan yang masih berada digaris sempadan pantai sehingga setiap tahun terancam abrasi pantai setiap musim angin barat. Selain itu, untuk nelayan Pondok Prasi yang terdampak relokasi lahan.

“Salah satu solusi agar nelayan bisa aman dari abrasi pantai adalah dengan relokasi ke rusunawa,” katanya. (Ant)