RPH Banyumulek Beroperasi, Buka Peluang Pasar Bagi Peternak

Kegiatan di RPH Banyumulek (Inside Lombok/ist)

Mataram (Inside Lombok) – Rumah Potong Hewan (RPH) Banyumulek di Lombok Barat saat ini akan kembali dioperasikan. Meski sempat mangkrak, dioperasikannya fasilitas itu diharapkan membuka peluang besar bagi peternak untuk memasarkan hasil ternak mereka. Terlebih sudah banyak investor yang ingin berbisnis di RPH Banyumulek, meski belum ada yang terealisasi.

Akademisi Fakultas Peternakan Universitas Mataram (UNRAM), Prof Yusuf Ahyar Sutaryono menyebut beroperasinya RPH Banyumulek dapat memperluas peluang pasar peternak NTB untuk menjual ternaknya. Sebagai salah satu pasar selain pasar jagal lokal. Tak hanya itu saja, akan berdampak pada serapan pemotongan ternak lokal yang tinggi. Sehingga membuat pasar ternak penggemukan di NTB meningkat.

“Karena pangsa pasar ternak NTB sebagian besar hanya untuk konsumsi pasar lokal. Tidak ada pasar ke luar daerah! Ini memang peluang bagi peternak. Sekaligus menjadi cambuk untuk peternak makin meningkatkan produksinya,” jelas Sutaryono, Jumat (2/12).

RPH Banyumulek beberapa kali memang sempat dilirik investor, baik investor dalam negeri maupun luar negeri. Sayangnya, tidak ada kejelasan hingga kini. Investasi di sektor peternakan ini memang cukup menjanjikan. Bahkan belum lama ini investor dalam negeri asal Jakarta sudah melakukan survei ke lokasi dan beberapa lokasi peternakan. Terlebih potensinya untuk berinvestasi cukup bagus, terutama di bidang olahan daging.

Investor kali ini diyakini akan sangat berminat untuk mengelola RPH Banyumulek. Di mana rencananya akan memotong beberapa ekor setiap harinya. Jika nantinya benar-benar operasional RPH tersebut, mengingat sempat tidak beroperasional lantaran biayanya cukup besar.

Kendati, peternak NTB pasti akan mengalami kesulitan dalam memasok ternak ke RPH Banyumulek. Mengingat kebutuhan investor mencapai ratusan ekor per harinya. Sementara produksi ternak masih terbatas

“Salah satu kemungkinan yang dibicarakan adalah memasukkan ternak dari impor. Ini bisa menjadi peluang dan juga bencana bagi peternak kita,” terangnya.

Terpisah, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, Khairul Akbar memastikan investor pengelola RPH Banyumulek PT. Atra Begawan Nusantara sangat serius dalam melaksanakan kerja sama dengan Pemprov NTB. Pihak investor langsung mendatangkan teknisinya untuk membenahi mesin-mesin ada di RPH Banyumulek, termasuk renovasi gedung.

“Bukti sudah dibayar sewanya sampai lima tahun kedepan sama investornya. Nilai sewanya Rp500 juta. Perbaiki mesin mesin dan merehab gedungnya,” ucapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sapi potong, investor berencana menggandeng peternak sapi lokal. Karena target potongnya bisa sampai 200 ekor sapi perhari. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan sapi potongnya, tidak menutup kemungkinan akan didatangkan dari luar NTB, bahkan dari luar negeri.

“Pemerintah daerah juga akan fasilitasi, investor dan para pengusaha lokal bertemu menjalin kerjasama. Kita tentu senang dengan kehadiran investor ini,” katanya. (dpi)