Rugi hingga Miliaran Rupiah, Koi yang Siap Panen Malah Hanyut Terbawa Air Bah Sungai Meninting

605
Sisa ikan koi yang berhasil diselamatkan setelah kolamnya diterjang air bah dari aliran sungai Meninting. Senin (20/06/2022). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur'ani)

Lombok Barat (Inside Lombok) – Luapan dari Sungai Meninting yang terjadi pada Jumat (17/6) sore kemarin membanjiri sebagian wilayah pemukiman warga. Area persawahan hingga kandang ternak warga juga ikut terendam. Bahkan kolam budidaya ikan koi terbesar di NTB yang juga berada di jalur aliran sungai tersebut ikut terdampak.

Tak ayal, kerugian ekonomi ikut timbul akibat Sungai Meninting meluap. Seperti yang dialami Rinjani Koi Farm, yang merugi hingga Rp1,5 miliar akibat banjir yang diduga terjadi lantaran jebolnya tanggul pengelak di mega proyek Bendungan Meninting tersebut.

Pemilik Rinjani Koi Farm, Dewi Wiliam menyebut ribuan ekor koi di kolam miliknya yang siap dikirim ke luar daerah justru hanyut terseret air bah dari Sungai Meninting. “Sekitar Rp 1,5 miliar kerugian itu hanya di ikan saja. Belum yang lainnya seperti peralatan, mesin-mesin bahkan tembok pagar kita jebol karena derasnya air,” keluhnya saat ditemui ketika tengah membersihkan kolam ikannya, Senin (20/06/2022).

Hingga hari keempat setelah air bah itu menyambangi kolam budidayanya, ia beserta tim masih terlihat berjibaku membersihkan lumpur tebal dan air keruh bak susu coklat di belasan kolam miliknya.

“Kalau bilang kerugian, sangat besar ya. Karena ini ikan yang akan kita panen hari Sabtu dan Minggu itu hilang. Kita ibaratkan sudah tidak ada sisa,” tuturnya. Dewi mengaku kebingungan, bagaimana harus mengakali hal itu. Lantaran, ikan yang sudah laku dilelangnya dan akan dikirim ke luar daerah justru hanyut terbawa air bah.

“Itu yang sangat saya sayangkan. Kenapa tumben-tumben terjadi seperti ini? Biasanya curah hujan tinggi pun air tidak pernah sekecencang ini. Hitungan menit dia (air, Red) masuk, hitungan menit juga dia keluar airnya,” tutur dia.

Saat kejadian, ia dan timnya yang ada di lokasi hanya bisa menyelamatkan diri. Sehingga sudah tidak bisa menyelamatkan ikan-ikan yang sudah siap panen tersebut. Kini, untuk bisa melakukan pemulihan pada kolam ikan koi itu, diperlukan waktu paling cepat satu bulan.

“Tidak bisa (berjalan seperti biasa) karena pemulihannya perlu waktu satu bulan lebih,” ujarnya. Untuk itu Dewi berharap, pihak terkait dalam proyek Bendungan Meninting bisa melakukan peninjauan dan kajian soal berbagai kemungkinan dan dampak yang bisa merugikan masyarakat sekitar bendungan.

“Harapan saya, mereka harus meninjau bagaimana kita di sini, apa yang terjadi sama kita, apa sebabnya hal ini bisa terjadi, karena tumben-tumbennya ini terjadi,” ketus dia. Menurutnya, tujuh tahun membangun usaha di lokasinya saat ini, peristiwa air bah yang datang menerjang hingga menghancurkan tembok baru pertama kali terjadi.

Dari total ribun ikan yang dibudidayakannya, kini yang tersisa hanya ratusan ekor. Padahal, ikan-ikan yang telah dibudidayakannya itu ada yang seharga Rp 1-4 juta. Di mana sebelumnya, ia bahkan bisa meraup untung sekitar Rp100 juta per bulan, dengan biaya perawatan ikan mencapai Rp25 juta dari lahan 70 are miliknya.

“Saya harap bisa jadi catatan buat pihak terkait, bagaimana bisa bekerja safety-nya seperti apa. Trus juga perencanaan dalam hal pengerjaan, jangan sampai merugikan masyarakat yang dibawah,” tandas Dewi. (yud)