Satgas Pastikan Investasi di Sekaroh Berjalan Lancar

Ketua Satgas Investasi NTB, H. Mohammad Rum (Inside Lombok/Devi)

Mataram (Inside Lombok) – Tim Satgas Percepatan Investasi NTB memastikan permasalahan yang dihadapi investor di wilayah Sekaroh, Lombok Timur segera terselesaikan. Hal itu sebagai manifestasi komitmen pemerintah daerah menjamin investasi berjalan lancar dan memberikan keamanan serta kenyamanan bagi investor.

Ketua Satgas Investasi NTB, H. Mohammad Rum mengatakan investor yang berada di Sekaroh Lombok Timur dalam hal ini PT. Eco Solution Lombok (ESL) dalam 10 tahun berinvestasi, dihadapi dengan berbagai persoalan. Bahkan hingga kini pembangunan fisik belum dilakukan, lantaran ada beberapa permasalahan yang sedang dihadapi. Antara lain penegakan hukum terhadap kejahatan kehutanan, adanya sertifikat ilegal, serta masih adanya bangunan serta warung dan tempat parkir ilegal.

“Makanya Pemkab Lombok Timur membentuk tim satgas tingkat kabupaten, begitu juga BPN segera menerbitkan SK pencabutan 28 sertifikat (di Sekaroh),” ujar Rum, Rabu (30/11).

Investasi dari PT. ESL ingin membuat hutan lindung menjadi Kawasan Ekonomi Khusus dan akan membangun fasilitas teknis bertaraf internasional. Namun masih menunggu kepastian kapan bangunan ilegal di sekitar kawasan untuk dipindahkan.

Pasalnya dari 29 sertifikat yang bermasalah. Terdapat 28 sertifikat telah siap dibuatkan SK pembatalan dan pencabutan sertifikat. Sementara sertifikat nomor 704, belum dapat dilakukan pembatalan karena belum ada putusan dari PTUN.

“BPN dan tim akan mengawal sertifikat nomor 704 agar ikut dicabut sesuai dengan koridor hukum berlaku di Indonesia. Serta memastikan menteri telah menyatakan area disana adalah area kawasan hutan,” jelasnya.

Maka dari itu segala sesuatu yang ada di sana merupakan tanggung jawab dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB. Karena dalam proyeknya PT ESL akan mempekerjakan warga lokal. Artinya warga lokal ikut dilibatkan oleh investor, karena memang setiap investor yang akan berinvestasi untuk tenaga kerja harus menggunakan tenaga lokal.

“Memang harus orang lokal juga dipekerjakan oleh investor yang akan berinvestasi di NTB ini. Tapi ada juga orang luar, hanya saja yang utama itu pekerja lokal,” ucapnya.

Sementara itu investor sekaligus owner PT ESL, John berharap permasalahan yang sedang dihadapi ini dapat segera diselesaikan. Karena tahap selanjutnya PT ESL akan menginvestasikan sekitar USD15-25 Juta dan akan mulai melakukan pengerjaan pembangunan fisik. (dpi)