Selama 6 Bulan, PMI Kirim Uang ke NTB Capai Rp413,38 Miliar

17
Ilustrasi Remitansi (Image source : Migrantcare.net)

Mataram (Inside Lombok) – Pengiriman uang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal NTB selama 6 bulan belakangan ini tercatat sebanyak Rp413,38 miliar sepanjang 2022. Lagi-lagi Arab Saudi dan Uni Emirate Arab paling banyak mengirim, jika dibanding dengan negara Malaysia.

Padahal jika melihat situasinya PMI asal NTB lebih banyak ke Malaysia dibandingkan ke Arab Saudi maupun Uni Emirate Arab. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB remitansi yang masuk ke NTB di triwulan I 2022 sebesar Rp156 miliar dengan rincian pengiriman dari perbankan sebanyak Rp72 miliar dan melalui PT Pos sebesar Rp84 miliar.

“Triwulan II 2022 itu remitansi atau penerimaan PMI NTB yang masuk melalui perbankan Rp70 miliar, sedangkan dari PT Pos Rp186 miliar,” ujar Kepala BPS NTB, Wahyudin, Senin (1/8).

Jika dilihat secara total penerimaan remitansi dari PMI NTB melalui perbankan yang tercatat di Bank Indonesia (BI) sebesar Rp142 miliar. Sedangkan melalui PT Pos sebesar Rp270 miliar. Penerimaan remitansi paling tinggi dari negara Arab Saudi berdasarkan data BI dengan nilai Rp12 miliar atau 57,30 persen, Uni Emirate Arab Rp4,1 miliar atau 19,06 persen, Jepang Rp169 Juta atau 0,77 persen, Malaysia Rp79 Juta atau 0,36 persen, Singapore Rp44 juta atau 0,20 persen, Qatar Rp29 juta atau 0,13 persen dan negara-negara lainnya Rp4 miliar atau 22,18 persen.

Sementara dari PT Pos berdasarkan kabupaten/kota paling banyak PMI asal Lombok Tengah dengan nilai Rp14 miliar, kemudian Sumbawa Rp11,9 miliar, Lombok Timur Rp11,1 miliar. Dan paling kecil dari kabupaten Bima senilai Rp575 juta. Diakui penerimaan remintasi dari PMI asal NTB memang lebih banyak dari negera Arab Saudi, meskipun penempatan PMI ke Arab Saudi tidak sebanyak ke Malaysia.

“Banyak yang memang ke Malaysia, tapi yang Malaysia umumnya mereka tidak langsung mengirim ke kampungnya masing-masing karena kadang kadang mereka sekali kali bisa pulang karena dekat. Apalagi ada penerbangan langsung Kuala Lumpur ke Lombok,” jelasnya.

Artinya mereka para PMI yang penempatan Malaysia ini bisa setiap saat datang dan juga membawa uang hasil kerja mereka dan tidak perlu mengirim menggunakan bank atau pos. Namun tidak sedikit PMI yang memang mereka harus mengirim.

“Kenapa dia (Malaysia, red) kecil? Yang mungkin perbandingan dari sisi penghasilan di Malaysia dan Arab Saudi beda,” katanya.

Walaupun agak sedikit PMI dari Saudi Arabia dan Uni Emirate Arab tapi mereka ngirimnya banyak karena hasilnya banyak ketimbang yang dari Malaysia atau negara-negara tetangga yang dekat dengan Indonesia. Itu salah satu penyebabnya kenapa dari Arab Saudi penerima remintasinya lebih tinggi.

“Itu yang dari bank ya datanya lebih tinggi. Sebenarnya nisa juga akses mereka yang disitu (Arab Saudi) ke pos nya agak susah, lebih banyak melalui bank. Sementara kalau kita lihat melalui pos paling banyak berdasarkan kabupaten/kota itu Lombok tengah, tapi kalau melalui bank cuma 3,37 persen,” terangnya.

Wahyudin menilai bisa jadi hal seperti itu yang mempengaruhi penerimaan remitansi PMI NTB penempatan Arab Saudi. Sehingga BPS tidak dapat mengurusi mengapa PMI penempatan Malaysia lebih sedikit penerimaan remintasinya dibandingkan Arab Saudi.

“Kalau dari Malaysia mungkin lebih gampang melalui pos, dan bisa bawa pulang. Selain itu kita tidak ada mendata, uang yang dikirim ini digunakan sebagai apa. Tapi ada tim yang mendatanya,” tandasnya. (dpi)