Dampak Penerapan Bagasi Berbayar, Toko Oleh-oleh Sepi Pengunjung

Mataram (Inside Lombok) – Sektor pariwisata NTB baru saja akan bangkit setelah dilanda bencana gempa beberapa waktu lalu. Destinasi wisata alam seperti Gunung Rinjani serta beberapa air terjun masih memerlukan waktu untuk pembenahan. Selain itu beberapa hotel juga sempat mengalami kerusakan. Segmen yang masih bisa ditawarkan kemudian adalah segmen wisata budaya yang tidak terpengaruh oleh bencana tersebut.

Dalam masa pembenahan itu, sektor pariwisata kembali terpukul oleh kenaikan harga tiket pesawat, yang pada dasarnya menjadi moda utama transportasi wisatawan menuju berbagai daerah. Pariwisata di NTB yang berusaha bangkit dengan pembenahan-pembenahan tersebut malah sepi pengunjung.

Menanggapi hal tersebut, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) mengadakan Rapat Koordinasi (Rakor) di Yogyakarta, Kamis (14/01/2019). Rapat tersebut membahas tentang respon Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), yang beberapa waktu lalu menyatakan akan mencari cara mengembalikan harga tiket pesawat tersebut menjadi normal kembali.

Ketua ASITA Nusa Tenggara Barat (NTB), Dewantoro Umbu Djoka, menerangkan bahwa ASITA seluruh Indonesia tengah bersiap-siap melakukan unjuk rasa terkait kenaikan tiket pesawat tersebut pada tanggal 28 Februari mendatang. Hal tersebut akan ditempuh ASITA agar maskapai mau meninjau kembali kebijakan yang mereka terapkan soal harga tiket pesawat.

“Semoga cepat terselesaikan. Saya dengar Presiden sudah perintahkan untuk turunkan harga. Jadi prinsipnya ASITA sedang bersiap-siap. Kalau memang minggu depan turun, ya kita bersyukur. Tapi kalau belum turun juga ya kita siap aksi. Kalau tidak ada halangan kita akan datang ke Istana Negara, Kemenpar, Kemenhub, dan ke maskapai. Kita sudah izin di Polda semua,” ujar Dewantoro ketika dihubungi Inside Inside Lombok, Kamis (14/02/2019).

Menurut Dewantoro, kenaikan harga tiket pesawat sangat berdampak pada jumlah kunjungan wisatawan ke setiap daerah. Khususnya di daerah-daerah kepulauan. Penurunan itu ada di persentase 60% dimana Dewantoro mencontohkan tingkat kunjungan tamu hotel yang pada Februari tahun lalu bisa menyerap 100 orang per hari, sekarang hanya mencapai 40 orang per hari.

Selain itu, pusat oleh-oleh juga mengalami penurunan omzet yang signifikan. Hal tersebut terkait dengan bagasi berbayar yang diterapkan beberapa maskapai seperti Lion Air. Pengunjung yang jumlahnya semakin sedikit kembali berpikir dua kali untuk membawa pulang oleh-oleh.

“Ini pusat oleh-oleh di mana-mana babak belur. Di lombok khususnya sudah pascagempa, tiket pesawat naik juga. Ekonomi masyarakat menengah ke bawah jadi sangat terdampak,” ujar Dewantoro.

Dihubungi di tempat yang berbeda, Pemilik Toko Lestari Oleh-oleh, Habibie, menerangkan bahwa toko oleh-oleh yang dikelolanya menjadi contoh nyata dampak kurangnya wisatawan karena kenaikan tiket pesawat serta bagasi berbayar.

Habibie menyebutkan bahwa penurunan omzet di toko oleh-olehnya di Jl. Adi Sucipto, Lingkungan Tinggar, Kecamatan Ampenan, Mataram tersebut hampir mencapai 90% dibandingkan sebelum naiknya harga tiket pesawat.

“Dampak gempa belum selesai terus ditambah lagi dengan tiket yang harganya dua kali lipat. Belum lagi bagasi berbayar yang membuat wisatawan jadi malas membawa oleh-oleh,” ujar Habibie kepada Inside Lombok, Kamis (14/02/2019).

Habibie berharap agar Pemerintah Pusat berlaku lebih tegas terhadap maskapai penerbangan. Sempat beredar isu bahwa maskapai-maskapai menaikkan harga tiket mereka dan mulai menerapkan pembayaran bagasi untuk menutupi harga avtur yang dikelola PT. Pertamina Persero.

Menurut Habibie, mengingat PT. Pertamina adalah bagian dari Badan Usaha Milik Negara, Pemerintah Pusat harusnya bisa mengendalikan kebijakan yang diterapkan dengan memperhitungkan aspek ekonomi sosial terlebih dahulu.

“Lombok itu baru terkena gempa yang dampaknya luar biasa bagi ekonomi, sosial, dan psikologis. Lombok ini sedang proses bangkit. Tetapi kejatuhan tangga dan genteng, ibaratnya seperti itu,” ujar Habibie.

Sebelumnya Jokowi menyatakan bahwa kenaikan harga tiket pesawat terkait dengan harga avtur yang dikelola oleh PT. Pertamina. Menindaklanjuti hal tersebut, Jokowi tengah berencana memanggil Dirut Pertamina untuk membicarakan hal tesebut. Selain itu, Jokowi juga menyebutkan akan memasukkan kompetitor untuk bersaing dengan PT. Pertamina seandainya harga avtur di Indonesia tidak disesuaikan dengan harga internasional.

Dikutip dari aviation.pertamina.com, harga avtur di setiap bandara memang berbeda-beda. Untuk di Bandara Internasional Lombok (BIL) sendiri harga avtur dipatok sebesar Rp10.010 rupiah per liter. Pihak Pertamina di BIL sendiri saat dikonfirmasi menyatakan bahwa hal-hal terkait harga avtur tersebut merupakan wewenang dari PT. Pertamina regional Surabaya.

Tidak hanya di Lombok, harga tiket pesawat yang melambung itu juga berdampak ke pulau seberang di Sumbawa. General Manager Tambora Hotel, Made, menerangkan bahwa banyak pengunjung hotelnya yang mengeluh terkait tiket mahal tersebut.

Dimana, di awal tahun ini tingkat hunian di Hotel Tambora hanya mencapai 10 orang perhari, bahkan pernah hanya mencapai tiga (3) orang perhari. Made membadingkannya dengan awal tahun lalu, dimana tingkat hunian Hotel Tambora bisa mencapai 30 orang per hari saat Low Season.

“Tamu jadi lebih banyak lewat darat sekarang. Tapi mereka juga tentu mempertimbangkan jarak, waktu juga mereka pikirkan,” ujar Made saat dihubungi Inside Lombok, Kamis (14/02/2019).

Komentar lainnya juga datang dari pendiri agen perjalanan Kaki Jalan, Askar DG Kamis. Menurut Askar, perusahaan penerbangan perlu memperhatikan revenue management yang sedang diterapkan saat ini. Seharusnya diterapkan teori harga tinggi untuk permintaan tinggi dan harga rendah untuk jumlah permintaan yang rendah.

“Biasanya kita ke Jakarta itu 600 ribuan. Kemarin saya lihat untuk tanggal 19-20 Februari di Lion Air itu ke Jakarta 900 ribuan. Kenaikan harganya ini kalau dilihat sekitar 40%. Yang aneh di sini itu revenue managementnya. Yang terjadi sekarang jumlah permintaan rendah tapi harganya tinggi, ini dari mana? prinsip ekonominya bagaimana,” ujar Askar kepada Inside Lombok, Kamis (14/02/2019).

Pemilik usaha kuliner dengan branding Bandar Sambal tersebut juga menyebutkan bahwa masalah ini perlu pembahasan lebih lanjut dengan pihak-pihak terkait. Seperti pihak penerbangan, pelaku pariwisata, serta pihak pembeli.

Menanggapi masalah kenaikan harga pesawat tersebut, Askar menilai bahwa timbulnya masalah salah satunya karena para pengusaha di bidang pariwisata juga hanya bekerja pada segmen mayoritas yang terlalu sensitif pada harga. Menurutnya, untuk menyiasati masalah-masalah seperti ini, pelaku pariwisata juga perlu terus menggali segmen yang mampu menaikkan jumlah permintaan dalam kondisi apapun.

“Kita lihat Labuan Bajo. Di sini wisatawan tetap datang walaupun sejak awal harga tiketnya tetap mahal. Itu karena ada penawaran,” ujar Askar.

Menurut Askar, perlu ada inovasi dalam produk pariwisata di Lombok. Inovasi tersebut nantinya perlu melihat tren yang sedang berkembang di wisatawan. Dimana saat ini sedang berkembang tren berwisata dengan konsep melakukan aktivitas bersama masyarakat.

Hal tersebut menurut Askar akan berkembang di Lombok mengingat selain alam yang indah dan gedung-gendung modern yang semakin banyak, Lombok punya modal budaya serta kesenian yang tidak akan hilang oleh bencana alam maupun tergusur oleh harga tiket pesawat.

Sehingga dapat dikatakan bahwa dampak dari mahalnya harga tiket dan pemberlakukan bagasi berbayar dari maskapai penerbangan memberikan dampak yang luas. Tentu saja banyak perubahan yang terjadi. Misalnya berkurangnya kunjungan wisatawan yang berdampak pada berkurangnya omzet penjualan di pusat oleh-oleh. Belum lagi dampak lainnya, seperti usaha kuliner, jasa perjalanan wisata dan masih banyak lainnya.