BerandaMataramFaktor Ekonomi Picu Kasus KDRT di Kota Mataram

Faktor Ekonomi Picu Kasus KDRT di Kota Mataram

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak (DP3A) Kota Mataram mencatat 16 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak hingga Maret 2026. Mayoritas kasus didominasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dipicu berbagai faktor, terutama ekonomi.

Kepala DP3A Kota Mataram, Zuhhad, mengatakan selain KDRT, kasus kekerasan seksual juga masih terjadi, meski rincian datanya belum dipaparkan secara detail. “Kalau secara detailnya itu ada kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual dan lainnya. Tapi yang paling banyak itu kekerasan dalam rumah tangga,” katanya, Selasa (5/5/2026).

Ia menegaskan, penanganan kasus kekerasan tidak bisa dilakukan oleh satu organisasi perangkat daerah saja, melainkan membutuhkan keterlibatan lintas instansi dan masyarakat. Upaya pencegahan dilakukan melalui imbauan kepada berbagai kelompok, termasuk komunitas pengajian dan majelis taklim.

“Ini kan kerja bareng bukan tugas DP3A Kota Mataram saja, jadi perlu himbauan. Kita saat ini kasih himbauan dan ibu-ibu pengajian, majlis taklim dan daycare,” katanya.

Terkait tren kasus, Zuhhad menyebut pihaknya belum dapat memastikan adanya peningkatan karena evaluasi dilakukan setiap tahun. “Itu kita lihat setiap tahun saja ya sebagai bahan evaluasi. Kita evaluasi setelah setahun,” ujarnya.

Menurutnya, KDRT yang dilaporkan umumnya dipicu faktor ekonomi, selain juga dipengaruhi pendidikan dan lingkungan keluarga. “Kasusnya lebih banyak terjadi pada masyarakat ekonomi kelas bawah. Pendidikan, lingkungan, dan keluarga,” katanya.

DP3A Kota Mataram mengimbau masyarakat, khususnya pasangan suami istri, untuk menghindari kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu, kasus perundungan juga menjadi perhatian dalam upaya perlindungan perempuan dan anak.

- Advertisement -

Berita Populer