SMAN 1 Lingsar Lakukan Simulasi Belajar Tatap Muka

Proses simulasi belajar tatap muka di salah satu ruang kelas di SMAN 1 Lingsar. Selasa (08/09/2020). (Inside Lombok/Istimewa).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Di tengah beragam kendala yang dikeluhkan sebagian besar sekolah dalam proses belajar daring ditengah pandemi covid-19 ini, SMAN 1 Lingsar, Lombok Barat justru menggelar simulasi belajar tatap muka pada tanggal 7- 8 September 2020 ini.

Namun dalam proses simulasi ini, yang dilibatkan hanya siswa kelas XII berjumlah 150 orang. karena mengacu pada peraturan dari Dinas Pendidikan Lobar bahwa dalam proses belajar tatap muka, siswa yang terlibat tidak boleh lebih dari 250 orang.

“Ini ruang kelas yang kita pakai dalam simulasi ini kan 10, per kelasnya diisi 15 sampai 18 orang” kata Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Lingsar, Drs H Sabudi melalui sambungan telepon, Selasa (08/09/2020).

Ini adalah strategi supaya dapat sesuai dengan izin yang diberikan oleh dinas, yaitu setiap kelasnya maksimal diisi oleh 18 siswa. Tidak hanya kelas XII saja, tetapi seluruh siswa SMAN 1 Lingsar.

Dalam prosesnya nanti, semua guru akan disediakan face shield oleh sekolah. Karena harus disesuaikan juga dengan peraturan. Di mana setiap guru yang mengajar diwajibkan menggunakan masker dan face shield.

Setiba di sekolah, siswa akan disambut oleh guru tetapi tetap tidak boleh bersalaman. Kemudian, sambung Sabudi, para siswa akan diarahkan untuk mencuci tangan sebelum memasuki ruang belajar. Selain sabun dan tempat cuci tangan, setiap kelas juga telah disediakan hand sanitizer.

“Kalau siswa hanya wajib menggunakan masker, tapi kalau guru itu wajib menggunakan masker dan face shield” pungkasnya.

Terkait dengan pemenuhan standar protokol covid-19, Sabudi mengklaim, bahwa dari segi SOP, SMAN 1 Lingsar sudah dikatakan memenuhi standar tersebut.

“Kalau dilihat dari SOP nya kita sudah memenuhi. Karena SOP nya kan harus jaga jarak, menyediakan hand sanitizer, kemudian meja-meja untuk pelayanan itu diberikan pembatas menggunakan untuk jaga jarak. Kita disini memiliki 4 buah thermo gun” Jelas wakil kepala sekolah bagian kurikulum SMAN 1 Lingsar ini.

Dari simulasi selama dua hari ini, sebut Sabudi, tidak ada kendala yang berarti. Karena semua wali kelas dilibatkan guna tetap mengingatkan para siswa untuk menjaga jarak dan jangan sampai melepas masker meski sudah berada di dalam kelas.

“Soalnya kan kadang anak-anak itu agak teledor dia. Begitu sampai itu ngobrol atau makan, maskernya dibuka dan seringnya lupa ditutup” ungkapnya.

Apabila Senin depan, SMAN 1 Lingsar berhasil mengantongi izin untuk belajar tatap muka dari dinas pendidikan. Maka proses belajarnya akan menggunakan sistem shift.

“Nanti itu ada shift pagi, dari jam 7:30 sampai jam 11:00, itu sekitar 3 jam kan. Karena dalam aturannya, anak didik itu berada di sekolah maksimal 4 jam” terang Sabudi.

Dalam proses ini nantinya, sambung Sabudi, harus disesuaikan dengan arahan dinas.

“Mulai dari ruang isolasi, kantin tidak boleh buka dan anak-anak tidak boleh berada di sekolah lebih dari 4 jam” katanya.

Bagi siswa yang sekiranya sakit, maka tidak akan diperbolehkan untuk mengikuti proses belajar mengajar di sekolah. Oleh karena itu, beberapa guru ditugaskan untuk mengecek suhu tubuh dan kondisi kesehatan siswa saat memasuki gerbang sekolah.

“Itu nanti kalau ada yang sakit atau suhu tubuhnya lebih dari 37° celsius, itu kita suruh pulang. Begitupun dengan siswa yang tidak menggunakan masker, itu kita suruh balik untuk ambil atau beli masker dulu” tegasnya.

Untuk saat ini, pihak SMAN 1 Lingsar mengaku sedang memproses surat yang akan dikirim ke satgas covid dan dinas pendidikan kabupaten Lombok Barat juga provinsi, guna memperoleh izin untuk mulai melakukan pembelajaran tatap muka.

“Ini kan prosesnya dari kecamatan dulu, kita minta izin di satgas covid di kecamatan, baru kemudian ke satgas covid yang di kabupaten” bebernya

Tapi bagaimana ke depannya Ini tergantung dari keputusan dan izin dari dinas. Jika dinas mengizinkan, maka SMAN 1 Lingsar, mulai minggu depan dapat melaksanakan belajar tatap muka. Akan tetapi jika tidak berhasil mengantongi izin, maka kata Sabudi, SMAN 1 Lingsar akan kembali belajar dari rumah (BDR).

“Karena kewenangan izin ini kewilayahannya nanti provinsi. Tidak mungkin satu SMA yang buka, kemudian SMA lain tidak dibolehkan. Nanti dinas memiliki cara sendiri untuk menyiasati ini” sebutnya.

Tidak jauh berbeda dengan keluhan terkait belajar Daring yang diutaran beberapa sekolah, selain permasalahan sinyal, Sabudi juga mengungkapkan bahwa masih banyaknya siswa yang tidak memiliki telepon pintar untuk mengikuti proses belajar Daring tersebut.

“Tidak semua anak punya hp android. Apalagi kan dulu pemerintah sendiri yang melarang pelajar untuk memiliki hp, tapi sekarang malah semua diwajibkan punya hp” tandasnya.

Kesulitan lainnya dalam proses BDR ini juga terkait keleluasaan siswa untuk dapat bertanya langsung pada gurunya apabila belum memahami materi pelajaran yang diterima. Terlebih lagi, ketika tidak semua orang tua memiliki latar belakang pendidikan yang memadai.