Lombok Utara (Inside Lombok) – SMKN 1 Tanjung menyiapkan program kelas industri bagi siswa kelas XI menjelang Praktik Kerja Industri (Prakerin). Program yang akan dilaksanakan usai Ramadan ini bertujuan membekali siswa dengan kesiapan mental dan pemahaman budaya kerja sebelum terjun ke dunia industri.
Kepala SMKN 1 Tanjung, Muhamad Syarifudin Arahman, mengatakan kelas industri dirancang untuk meminimalisir culture shock saat siswa mulai praktik di lapangan. Melalui program tersebut, siswa diperkenalkan pada ritme dan standar kerja industri dalam waktu singkat sebelum menjalani magang reguler.
“Ini adalah terobosan yang ingin saya lakukan. Melalui kelas industri, anak-anak sudah paham ritme kerja sebelum benar-benar magang. Karena sudah punya pengetahuan awal menyesuaikan diri dengan budaya kerja seperti disiplin, kerapian, hingga sopan santun,” ujarnya, Rabu (4/3).
Ia menjelaskan, kelas industri memiliki durasi satu hingga dua minggu dan berbeda dengan magang konvensional yang berlangsung berbulan-bulan. Selama periode tersebut, siswa diterjunkan langsung ke dunia usaha dan dunia industri (DUDI), kemudian kembali ke sekolah untuk melakukan refleksi bersama guru.
“Setelah terjun langsung, mereka kembali ke sekolah untuk melakukan refleksi bersama guru-guru. Mereka mendiskusikan apa yang ditemukan di lapangan. Harapannya, konsep berpikir siswa tentang disiplin dunia kerja akan berubah menjadi lebih profesional,” terangnya.
Untuk mendukung pelaksanaan program, sekolah akan memperbarui nota kesepahaman (MoU) dengan mitra industri karena skema kerja sama kelas industri berbeda dengan magang biasa. Ia menyebut tantangan utama berada pada aspek anggaran, karena biaya bahan praktik sepenuhnya ditanggung sekolah.
“Budgetnya memang lebih besar di Kelas Industri. Apalagi jika kita bicara soal alat praktik. Sejujurnya, SMK di NTB masih banyak yang kekurangan alat praktik karena standar industri bergerak sangat cepat. Misalnya di perhotelan, kita sanggup beli setrika biasa, industri sudah pakai setrika uap,” terangnya.
Ia menambahkan, keterbatasan dana BOS menjadi kendala dalam memenuhi standar peralatan industri. Pada tahap awal, sekolah akan menerapkan sistem seleksi dengan mengirimkan 10 siswa terbaik untuk mengikuti kelas industri.
“Mungkin nanti kita pakai skema 10 besar terbaik yang dikirim. Kami tidak akan mundur meski biayanya berat,” katanya.
Saat ini, konsentrasi keahlian Pariwisata telah menjajaki kerja sama dengan salah satu penginapan di kawasan Teluk Nare, khususnya pada bidang laundry. Sekolah berharap program tersebut dapat meningkatkan kesiapan dan daya saing lulusan di dunia kerja.

