29.5 C
Mataram
Sabtu, 7 Maret 2026
BerandaLombok TengahMenu MBG di SDN 1 Lajut Dikeluhkan, Kepala SPPG Bantah Ada Markup

Menu MBG di SDN 1 Lajut Dikeluhkan, Kepala SPPG Bantah Ada Markup

Lombok Tengah (Inside Lombok) – Menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Praya Tengah Lajut Dua dikeluhkan oleh sejumlah guru di SDN 1 Lajut, Lombok Tengah. Menu yang diterima siswa dinilai tidak sebanding dengan anggaran yang tersedia, sementara kemasan makanan disebut menggunakan plastik kresek menyerupai berkat hajatan.

Salah satu guru di sekolah tersebut mengatakan pihak sekolah telah berulang kali menyampaikan keluhan kepada penyedia dapur MBG terkait menu yang diberikan kepada siswa. “Kami sudah sangat sering mengeluhkan menu yang diantarkan. Kami juga sudah memberikan masukan kepada pihak dapur,” ujarnya saat ditemui di sekolah.

Ia menyebut beberapa menu yang pernah diberikan antara lain keripik tempe, keripik singkong berwarna ungu, serta buah. Menurutnya, menu tersebut dinilai tidak sesuai dengan nilai anggaran yang disebut mencapai Rp10 ribu per paket.

“Pernah juga diberikan keripik tempe, kemudian keripik singkong yang ungu itu, dan buah. Kami nilai itu tidak sampai Rp10 ribu,” imbuhnya.

Keluhan terkait menu MBG tersebut juga sempat viral di media sosial melalui sebuah video yang memperlihatkan seorang guru berdebat dengan salah satu pengantar makanan karena dianggap tidak sesuai dengan anggaran program.

Kepala SPPG Dapur Lajut Dua, Fahrurrozi, mengatakan pihaknya telah bertemu dan berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk membahas keluhan tersebut. “Kami sudah bertemu dan berkoordinasi di dapur dengan pihak sekolah, dan sekarang sudah tidak ada masalah,” katanya.

Ia menjelaskan SPPG Lajut Dua menyalurkan paket MBG kepada penerima B3 sebanyak 458 paket serta kepada 1.993 siswa dan guru yang tersebar di sejumlah sekolah. Ia juga menyebut menu yang diberikan berbeda setiap hari dan telah disesuaikan dengan standar operasional prosedur.

“Kami pastikan tidak ada markup harga. Ke depan hal ini akan kami evaluasi, karena ini merupakan bagian dari perbaikan pelayanan kami,” ujarnya.

Terkait kemasan makanan yang menggunakan plastik, Fahrurrozi menyatakan pihaknya sebenarnya telah menyiapkan wadah makanan, namun tidak digunakan karena dinilai merepotkan jika harus dikembalikan setelah dipakai.

“Kami sebenarnya sudah menyiapkan mika, tetapi karena ukuran mikanya terlalu kecil, akhirnya kami terpaksa menggunakan kertas kresek. Dibandingkan dengan yang rapel, tentu terlihat sedikit,” jelasnya.

- Advertisement -

Berita Populer