Mataram (Inside Lombok) – Indonesia sedang berpacu dengan waktu dalam menangani krisis sampah plastik. Di tengah ancaman 2.000 truk sampah yang berpotensi hanyut ke lautan setiap harinya, sebuah terobosan konstruksi muncul sebagai solusi hijau sekaligus jawaban atas kebutuhan infrastruktur pendidikan.
CEO PT Block Solutions Indonesia, Jimmy Hutasoit, mengungkapkan bahwa inovasi bahan bangunan berbahan 100 persen plastik daur ulang rumah tangga menjadi daya dukung utama mereka dalam menekan dampak perubahan iklim dan tumpukan limbah nasional.
“Apa yang kami lakukan adalah menghentikan perjalanan sampah plastik menuju TPA atau perairan, yang justru menjadi sumber utama persoalan mikroplastik,” ujarnya, Kamis (19/3).
Sebagaimana diketahui, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2023. Dimana Indonesia menghasilkan sekitar 56 juta ton sampah per tahun. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 39 persen yang diproses secara layak, sementara 60 persen lainnya belum tertangani dengan baik dari 56 juta ton itu, 20 persennya adalah sampah plastik. Artinya jutaan ton plastik berpotensi berakhir di TPA atau bahkan di perairan.
“Ada 60 persen sampah plastik yang tak tertangani setara dengan sekitar 2.000 truk sampah plastik yang berujung ke laut. Itu yang mendorong kami memanfaatkan sampah plastik rumah tangga sebagai bahan baku utama produk blok bangunan,” jelasnya.
Berbeda dengan batu bata atau batako konvensional, blok plastik ini menawarkan efisiensi waktu yang signifikan. Ia mengklaim proses pembangunan fasilitas publik bisa dipangkas hingga lebih dari separuh waktu normal. Dimana pembangunan ruang kelas yang biasanya memakan waktu 3–6 bulan, kini dapat rampung dalam waktu kurang dari 2 bulan. Kemudian produk telah lolos uji laboratorium di dalam negeri hingga standar Eropa. Bahkan mengolah limbah plastik ke dalam bentuk padat atau blok bangunan dinilai lebih efektif mencegah plastik terurai menjadi mikroplastik di alam bebas.
Hingga saat ini, inovasi ini telah mewujud dalam 300 ruang kelas yang tersebar dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Secara akumulatif, proyek ini telah berhasil menyelamatkan lingkungan dari sekitar 600 ton sampah plastik.
“Di sana itu setiap ruang kelas rata-rata memanfaatkan hingga dua ton sampah plastik. Satu ruang kelas dapat digunakan 30 hingga 40 siswa, sekaligus melibatkan lima sampai sepuluh pekerja dalam proses pembangunannya,” terangnya.
Sedangkan di Lombok, kebutuhan ruang belajar masih tinggi pasca gempa 2018 sebanyak 1.200 sekolah yang mengalami kerusakan. Block Solutions melihat ini sebagai peluang untuk berkontribusi pada pemulihan fasilitas pendidikan yang lebih tangguh dan cepat bangun.
”Kami ingin hadir di Lombok bukan sekadar urusan lingkungan, tapi memastikan akses pendidikan layak segera terpenuhi,” tuturnya.
Ke depan, perusahaan menargetkan ekspansi pabrik ke berbagai pulau besar di Indonesia. Langkah ini diharapkan mampu memutus rantai distribusi sampah di tingkat lokal sekaligus menciptakan ekosistem ekonomi sirkular yang lebih masif bagi masyarakat daerah.
“Targetnya, selain menyerap lebih banyak sampah plastik di daerah, juga menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas. Harapan kami, produksi tidak hanya di Lombok, tapi di pulau-pulau lain. Supaya dampaknya lebih masif, baik untuk lingkungan maupun masyarakat,” pungkasnya.

