BerandaMataramUnik, Organisasi Pengusaha Muslimah di NTB Bagi-Bagi Takjil Pakai Sekresek Sayur

Unik, Organisasi Pengusaha Muslimah di NTB Bagi-Bagi Takjil Pakai Sekresek Sayur

Mataram (Inside Lombok) – Selama Ramadan ini pembagian takjil atau menu berbuka di beberapa ruas jalan cukup ramai. Namun ada yang menarik pada pembagian takjil yang dilakukan Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) NTB, di mana jajanan maupun kudapan diganti dengan sekresek sayur-mayur untuk masyarakat.

Ketua Pengurus Wilayah IPEMI NTB, Bau Intan mengatakan pembagian takjil berupa sayur mayur kepada masyarakat sudah direncanakan sejak lama. Pembagian sayuran ini juga untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokoknya. “Kita di bulan Ramadan ini kita membantu petani. Ini berbeda dari yang lain. Karena biasanya yang dibagi itu kan makanan. Tapi kita memilih untuk membagi sayur,” katanya.

Menurutnya, sayuran yang dibagi kepada masyarakat khususnya pengguna jalan langsung berasal dari para petani di Kabupaten Lombok Timur. Pembagian sejumlah komoditas pertanian ini juga untuk membantu para petani. “Kita bantu para petani di Lombok Timur. Ini harganya sedang murah di pasar. Makanya kita juga bantu beli hasil pertaniannya,” katanya.

Sayuran yang dibagi sebanyak 140 bungkus. Dalam satu bungkus terdiri dari terong, cabai merah besar, mentimun, tomat, kacang panjang dan beberapa jenis sayur lainnya. Pembagian sayuran merata dilakukan bagi semua pengguna jalan.

Sementara itu Sekjen IPEMI NTB, Ajeng Roslinda mengatakan setiap tahun pembagian takjil rutin dilakukan. Hanya saja tahun ini berbeda dengan tahun -tahun sebelumnya yaitu dengan membagi sayur. “Kalau takjil kan satu gelas itu direbut sama sekeluarga, tapi kali sayur ini bisa digunakan untuk dua hari,” katanya.

Harga komoditas pertanian rata-rata cukup murah kecuali cabai. Kacang panjang misalnya yaitu Rp3 ribu per kilo, dan mentimun yaitu Rp5 ribu per kg. Pembelian langsung di tingkat petani ini dengan harapan produksi pertaniannya masih tetap laku. “Sampai kita tidak timbang disuruh bawa sekarung yang penting barangnya laku. Jadi kita tidak memilih siapa yang penting siapa yang punya rejeki hari itu,” ujarnya.

Nilai gizi dari sayur yang dibagikan sama disebut seperti dengan sayur yang diimpor. Masuknya barang-barang impor ini disebut merugikan petani. “Tomat kita harganya Rp9 ribu di pengecer dan masuk tomat dari luar dengan harga Rp6 ribu apa nggak menangis petani kita,” katanya.

Ia mengharapkan, dari kegiatan bagi sayur yang dilakukan bisa dicontoh oleh organisasi yang lain. Dengan begitu, hasil pertanian para petani tetap laku dan tidak merasa rugi. “Siapa tahu ada organisasi lain juga yang punya sepemahaman dengan kita. Ini cara kita bantu petani,” harapnya. (azm)

- Advertisement -

Berita Populer