Mataram (Inside Lombok) – Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Mataram bersama camat dan lurah mempelajari metode penanaman cabai menggunakan konsep green house di Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Kamis (16/10). Upaya ini dilakukan karena cabai menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi di Kota Mataram.
Ketua Kelompok Tani Orong Balak Desa Kerongkong, Lotim, Subahan, menjelaskan konsep green house dapat diterapkan di berbagai daerah tanpa membutuhkan lahan luas. “Berapa pun lahan itu bisa. Tidak mesti harus luas dua are atau berapa,” katanya.
Subahan menyebut, jika terdapat 10 green house di Kota Mataram, maka kebutuhan cabai dan tanaman hortikultura lainnya sudah dapat terpenuhi. Menurutnya, konsep ini juga dapat membantu ketika terjadi kelangkaan cabai. “Kalau 10 itu kalau 300 maka bisa menghasilkan 3 ton setengah. Aman sudah Kota Mataram,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya siap membimbing kelompok tani di Mataram untuk mengembangkan metode serupa. Dari lahan seluas 20 are yang digunakan menanam cabai, kelompoknya mampu memperoleh pendapatan hingga Rp1 miliar selama masa panen. “Waktu panen itu harga cabai Rp150 ribu per kg. Ini kita bahas tentang harga pada saat murah,” ungkapnya.
Subahan menegaskan, petani tidak mengalami kerugian meski harga cabai turun karena hasil panen dapat dikeringkan sebelum dijual. “Kita tunggu sampai dua atau tiga bulan. Jika harga cabai fresh naik, dia ikut naik dua kali lipat. Cabai kering ini banyak kebutuhannya. Kita kirim ke Jawa, Kalimantan banyak yang pesan,” ujarnya.
Harga cabai kering, lanjutnya, bisa mencapai Rp170 ribu per kilogram dengan proses pengeringan manual tanpa oven. Selain cabai, kelompok tani yang dipimpinnya juga menanam tomat dan berbagai tanaman hortikultura lain menggunakan konsep green house tersebut.

