Antisipasi Peredaran Narkotika, 250 Anggota TNI Lakukan Tes Urine

Anggota Korem 162/WB mengumpulkan tabung urine untuk Tes Urine, Kamis (28/03/2019) (Inside Lombok/Istimewa)

Mataram (Inside Lombok) – Guna mengantisipasi peredaran dan penyalahgunaan narkotika di lingkup militer, Korem 162/WB melakukan tes urine terhadap 250 orang personel militer dan ASN jajaran Korem 162/WB, Kamis (28/03/2019). Hal tersebut merupakan bagian dari sosialisasi pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkotika di kalangan anggota militer.

Danrem 162/WB, Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani, menerangkan bahwa antisipasi terhadap peredaran narkotika perlu terus dilakukan. Hal tersebut mengingat peredaran narkotika yang dinilainya sangat meresahkan dan melemahkan potensi sumber daya manusia di Indonesia.

“Kita melaksanan tes urine kepada 250 orang personel militer dan ASN jajaran Korem 162/WB secara acak. Syukur Alhamdulillah hasilnya negatif,” ujar Ahmad, Kamis (28/03/2019) di Mataram.

Selain di Korem 162/WB, kegiatan serupa juga dilaksanakan di satuan Kodim Jajaran Korem 162/WB. Ahmad sendiri berharap kegiatan tersebut dapat mengantisipasi jatuhnya korban dari penyalahgunaan narkotika.

“Beberapa wilayah Indonesia darurat narkoba. Bahkan setiap hari kurang lebih ratusan orang perhari menjadi korban sia-sia penyalagunaan dan peredaran gelap narkoba. Perlu diketahui kita semua bahwa salah satu bagian dari konsep perang modern dengan cara melemahkan ketahanan sumber daya manusia melalui penyalagunaan dan peredaran narkoba secara terorganisir,” tegas Ahmad.

Ahmad juga menegaskan bahwa pihaknya akan turut aktif memerangi peredaran narkotika di lingkungan sekitarnya secara umum. Khusus untuk anggota jajaran Korem 162/WB yang berhasil menggungkap penyalahgunaan dan penyebaran narkotika di lingkungan sekitarnya sendiri, Ahmad berjanji akan memberikan bonus dan penghargaan sebagai bentuk apresiasinya.

“Selain dapat dijerat hukuman pidana sesuai yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, juga sampai pemecatan bagi Prajurit TNI/ASN di lingkungan TNI sesuai aturan yang berlaku. Yang tidak kalah penting secara medis dapat merusak jaringan saraf yang pada akhirnya mengganggu daya tahan tubuh serta pola berpikir, bahkan dapat merenggut nyawa,” ujar Ahmad.