Antisipasi Tawuran antar Pelajar di Sekotong, Polsek Gencar Sambangi Sekolah dan Tempat Nongkrong

58
Personel Polsek Sekotong saat menyambangi sekolah-sekolah (Inside Lombok/Istimewa)

Lombok Barat (Inside Lombok) – Keributan pasca-pertandingan sepak bola yang sempat terjadi di wilayah Sekotong, Lombok Barat (Lobar) menjadi atensi pihak kepolisian setempat. Terlebih keributan itu juga melibatkan pelajar di sana. Untuk itu, Polsek Sekotong intens menyambangi sekolah dan tempat nongkrong sebagai langkah antisipasi potensi perkelahian antar pelajar.

“Langkah antisipasi ini, berkaitan dengan kesalahpahaman pada pertandingan sepak bola sebelumnya, yang mana beberapa pemainnya ada juga pelajar di situ,” ungkap Kapolsek Sekotong, Iptu I Kadek Sumerta, Senin (21/11/2022).

Guna mencegah kesalahpahaman sepak bola itu terus berlanjut dan dikhawatirkan merambah di lingkungan sekolah, pihaknya pun gencar melakukan pemantauan di sejumlah sekolah dan tempat nongkrong. Khususnya yang ditengarai sering dijadikan tempat perkelahian dan tawuran.

“Melalui Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD) ini kami melakukan patroli dalam rangka antisipasi terjadinya aksi perkelahian antar pelajar,” imbuh dia.

Ada pun lokasi yang menjadi sasaran kegiatan patroli, selain sekolah SMA/SMK serta di seputaran lokasi tongkrongan pelajar Dusun Gawah Pudak, Desa Persiapan Pesisir Mas. Kemudian di seputaran Dermaga Tawun, Dusun Tawun, Desa Sekotong Barat.

“Cara bertindaknya, melalui pendekatan secara persuasif humanis, memberikan himbauan kepada siswa bila kedapatan masih berkeliaran di luar, untuk pulang kerumah masing- masing,” terangnya.

Selain itu, pihaknya juga melakukan pendekatan kepada pihak sekolah dan mengimbau agar melakukan pengawasan di sekolah, terlebih saat pulang sekolah agar lebih dioptimalkan. “Mengimbau orang tua siswa untuk meningkatkan pendidikan di lingkungan keluarga. Bagaimana peran orang tua dalam pengawasan terhadap putra dan putrinya diluar jam sekolah,” terangnya.

Sedangkan terhadap para siswa, personel Polsek Sekotong terus secara intens memberikan pemahaman agar menghindari aksi-aksi serupa. “Tentunya dapat merugikan diri sendiri orang tua dan paling penting yang dapat merugikan masa depan siswa itu sendiri,” tandasnya. (yud)