Berkah Ramadan, Petani Kangkung Kebanjiran Pesanan

Lombok Barat (Inside Lombok) – Sebagian masyarakat Lombok yang menyukai makanan pedas dan bahkan merasa berbuka puasanya kurang lengkap tanpa pelecing kangkung ini pun turut membawa berkah bagi para petani kangkung. Tidak terkecuali yang ada di Lombok Barat.

Nurasyiah, salah satu buruh petik kangkung, ditemui ketika panen kangkung di salah satu sawah di kawasan Sembung, Narmada. Ia terlihat tetap semangat sambil sesekali tertawa dan bercengkrama bersama rekannya.

Dirinya mengaku setelah memasuki bulan Ramadan, pemintaan kangkung pun mengalami peningkatan. Di mana ada ribuan ikat yang bisa dipasarkan perharinya sesaat setelah panen.

Bahkan perharinya, tutur dia, kangkung yang laku terjual bisa mencapai puluhan ikat besar. Itu satu ikatnya saja bisa berjumlah ratusan ikat kecil. Sehingga dia menyebut, saat Ramadan, kangkung yang dipanennya bisa laku sampai ribuan ikat kecil.

“Permintaan kangkung sekarang tinggi, satu ikat kecil itu harganya dari Rp 1.500 sampai Rp 2.500” katanya, di sela kegiatan memetik kangkung, Rabu(14/04/2021).

Di mana dalam sebulan, biasanya dia memanen kangkung sebanyak dua kali. Pada satu petak sawah, kangkung hasil panennya bisa sampai delapan ikat yang berukuran besar.

“Satu petak sawah ini, bisa sampai delapan ikat besar sekali panen. Kalau dia luas sawahnya dan panennya melimpah itu bisa sampai 30-35 ikat” imbuhnya.

Dia juga menuturkan, bahwa hasil panen kangkung di kawasan itu saat di luar bulan Ramadan, biasanya dikirim juga ke Bali. Karena permintaan kangkung yang datang dari pulau Dewata itu juga cukup tinggi. Bahkan tak tanggung-tanggung, kata Nurasyiah, permintaan kangkung ke Bali bisa datang setiap hari. Sehingga ia bisa memetik dan mengikat puluhan kangkung dalam ukuran besar perharinya.

Perempuan paruh baya ini mengaku sudah dua tahun menjalankan perkerjaannya sebagai buruh pemetik kangkung. Di mana untuk satu kali panen, ia biasa dibayar Rp 25 ribu untuk satu ikatan besar kangkung yang sudah dipackaging.

Dalam satu ikatan besar itu biasanya berisi 100 ikat kangkung yang lebih kecil. Sementara untuk proses pengikatannya dia dibayar Rp 5 ribu untuk satu bal ikatan besar. Lalu untuk upah dirinya mengangkut kangkung-kangkung yang sudah siap dijual itu dari sawah ke pinggir jalan, dia diberikan bayaran Rp 3 ribu dalam sekali angkut.

“Kami bersyukur, ketika bulan puasa biasanya permintaan kangkung itu semakin banyak. Jadi kami bisa dapat lebih banyak pekerjaan untuk memetik dan mengikat kangkung” pungkasnya sembari tersenyum.