BPBD: Pembangunan RTG di Lombok Barat 97 Persen

Sejumlah anggota TNI bersama warga menyelesaikan pembangunan Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) di Dusun Pedamekan, Desa Belanting, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, NTB. Inside Lombok/ANTARA/Ahmad Subaidi

Mataram (Inside Lombok) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, mencatat capaian pembangunan rumah tahan gempa (RTG) sudah mencapai 97 persen hingga Maret 2020.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi, BPDB Kabupaten Lombok Barat, Joko Marhandriyanto, di Kabupaten Lombok Barat, Jumat menyebutkan, masih ada tiga persen RTG yang belum dibangun karena masih ada kendala seperti buku tabungan yang belum diambil, dan sebagainya.

“RTG yang sudah selesai dibangun sebanyak 64 persen, sedangkan sisanya sedang dalam pelaksanaan dengan progres keseluruhan sekitar 97 persen,” katanya

Berkaca dari pengalaman rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa di daerah lain, kata Joko, capaian pembangunan RTG di NTB terbilang cepat.

Khusus di Kabupaten Lombok Barat, ia mengungkapkan, mampu membangun RTG sebanyak 72.843 unit setelah selesai rentetan gempa bumi besar yang terjadi sepanjang Juli-Agustus 2018.

“Capaian NTB termasuk yang lumayan cepat di antara daerah-daerah lain yang terkena gempa. Aceh misalnya butuh belasan tahun untuk normal 100 persen semuanya. Sinabung dalam tiga tahun hanya mampu membangun 600 rumah. Di Yogyakarta lebih dari tiga tahun juga,” ucap Joko.

Percepatan ini, menurut Joko, karena Pemerintah Provinsi NTB, dan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat bercermin mengacu pada daerah-daerah lain yang terkena gempa di seluruh Indonesia, termasuk mengantisipasi kendala-kendala yang pernah dialami daerah-daerah tersebut.

Terkait dengan wabah COVID-19, Joko mengaku sangat berpengaruh dari sisi capaian pelaporan. Apalagi banyak fasilitator sudah habis masa kontrak untuk membantu kelompok masyarakat terdampak gempa.

Pihaknya juga menghadapi kendala dari sisi tukang bangunan. Para tukang, sebut Joko, betul-betul sadar terhadap COVID-19, sehingga mereka selalu menjaga jarak dengan orang lain, sampai menemui orang saja tidak berani terlalu dekat. (Ant)