Cerita Pernikahan di Loteng: Suami Tawarkan Mahar Mobil, Istri Malah Minta Kain Kafan

Pasangan Hapipi dan Baiq Sri Ratna Wahyuningsih saat menunjukkan kain kafan yang menjadi mahar pernikahan. (Inside Lombok/Ist)

Lombok Tengah (Inside Lombok) – Pasangan pengantin di Kelurahan Prapen, Lombok Tengah (Loteng) antara H. M. Hapipi (57) dan Baiq Sri Ratna Wahyuningsih (42) viral dan membuat heboh warga. Pasalnya, pasangan yang menikah, Rabu (18/1/2023) kemarin itu menjadikan kain kafan sebagai mahar mereka.

Rupanya, mahar kain kafan itu merupakan permintaan dari sang istri kepada suami, sebagai pengingat kematian. Ratna pun mengaku, sebelum menikah suaminya telah menawarkan mas kawin berupa perhiasan dan lain-lain.

“Beliau menawarkan saya banyak untuk minta perhiasan, tapi saya bilang yang (kain kafan) saja. Karena uang kan bisa habis, tapi kain kafan kan bisa saya bawa mati,” kata Baiq Sri Ratna Wahyuningsih.

Dia menceritakan, bahwa pada awal-awal pernikahannya dengan suaminya bisa jadi bisa tidak. Namun soal kematian disebut Ratna pasti terjadi, sehingga ia mantap meminta kain kafan sebagai mahar saat menikah.

“Jadi saya butuh pengingat setiap hari, sebagai pengingat saat saya keluar rumah setiap pagi bisa melihat kain kafan itu, sehingga menjadi pengingat kalau saya sudah punya suami sehingga saya bisa taat kepada syariat Islam,” katanya.

Diakui Ratna, sebelum melangsungkan pernikahan dengan suaminya itu, ia sempat ditawarkan juga sebuah mobil sebagai sebagai mahar. Namun Ratna menolak.

“Cukup beliau jadi imam saya di hadapan Allah, membimbing saya dan mempertanggung jawabkan saya dunia akhirat. Itu saja tujuannya,” tuturnya.

Lebih jauh Ratna menceritakan, pihak keluarga mempelai perempuan bahkan sempat meminta untuk mengganti mahar kain kafan tersebut dengan mahar lain. Namun ia tetap menolak.

“Saya bilang ke orang tua, kan saya janda berhak menentukan mas kawin saya sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Hapipi yang menikahi Ratna mengaku sempat kaget ketika istrinya meminta mas kawin kain kafan tersebut. Meski begitu, hal itu tidak lain untuk tetap mengingat bahwa kematian itu akan tiba.

“Bahkan dia minta kain kafan ini diletakkan di tempat yang bisa dilihat setiap keluar dan masuk rumah sebagai pengingat kematian,” ujarnya.

Di sisi lain, Happi juga sempat ngotot kepada istrinya untuk menambahkan mahar berupa uang tunai saat mereka menikah. Sehingga akhirnya istrinya mau menerima dengan syarat sesuai dengan tanggal lahirnya.

“Makanya uang yang saya tambahkan ini berjumlah Rp2.580.000 artinya dia lahir tanggal 2 bulan Mei tahun 1980,” pungkasnya. (fhr)