Cerita Tenaga Medis Lombok Barat di Tengah Minimnya APD

113
Relawan COVID-19 Nusa Tenggara Barat (NTB) saat membagikan alat pelindung diri (APD) dan masker kepada para petugas medis yang kekurangan APD di sejumlah Puskesmas di Kabupaten Lombok Barat, NTB. (Inside Lombok/ANTARA/Nur Imansyah).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Kasus virus corona jenis baru COVID-19 di Nusa Tenggara Barat semakin meningkat hari demi hari. Pasien yang berdatangan ke puskesmas hingga rumah sakit pun terus bertambah.

Atas lonjakan pasien positif itu, pemerintah mentapkan  empat rumah sakit sebagai rujukan COVID-19, yakni RSUD Kota Mataram, RSUD Provinsi NTB, RSUD dr Raden Soedjono Selong Lombok Timur dan RSUD NTB Manambai Abdul Kadir di Kabupaten Sumbawa.

Hanya saja, kesiapan atau stok alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis yang dimiliki puskesmas dan rumah sakit di NTB tidak seimbang dengan jumlah pasien yang terus berdatangan.

Akibatnya, banyak tenaga medis yang menggunakan perlengkapan seadanya. Bahkan, beberapa di antara mereka membeli sendiri APD demi menjaga keselamatannya masing-masing. Padahal, keselamatan tenaga medis pun kerap kali terancam dengan kondisi tersebut.

Salah satu dokter piket di Puskesmas Sigerongan, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat (Lobar), Gusti Ayu Kartika, mengaku kerap khawatir setiap kali menerima pasien yang diduga terjangkit epidemi global itu. Sebab, ia tak dibekali APD yang lengkap.

Padahal, ia menyadari memiliki risiko tinggi jika pasien yang ditanganinya itu ternyata positif COVID-19. Namun, ia mencoba menepikan rasa khawatirnya demi melayani pasien dengan baik. Ia menyebut hal itu sebagai risiko seorang tenaga medis yang melayani pasien hingga sembuh meski tahu penyakit itu bahaya pula untuknya.

“Kalau dibilang takut, ya pasti takut. Tapi kita berserah pada Tuhan saja, ini sudah jadi bagian dari tugas profesi yang aku pilih. Aku khawatir, apalagi APD seadanya,” katanya.

Menurut dia, untuk menangani pasien terduga COVID-19, ia hanya dibekali pakaian operasi yang sebenarnya tidak sesuai dengan standar operasional. Setiap harinya, ia melayani enam hingga tujuh pasien terduga COVID-19, tanpa mengetahui apakah nantinya status terduga itu akan naik jadi positif atau tidak.

Gusti Ayu menuturkan, di wilayahnya pasien PDP yang ditangani kebanyakan merupakan kluster asal Gowa (Jamaah Tabligh).

“Aku cuma pakai baju gaun yang dipakai buat operasi, bukan baju astronot yang sesuai standar,” kata dia.

Selain itu, untuk masker, ia dibekali masker N-95 yang digunakannya selama seminggu merawat pasien terduga COVID-19.

Keadaan tersebut yang kadang membuatnya prihatin. Bahkan tak jarang ia mengeluh dengan keadaan para medis yang memprihatinkan.

“Capek sih, bahkan kalau lagi ngeluh terkadang terpikir gitu, lebih milih nerima pasien serangan jantung ketimbang nerima pasien terduga COVID-19,” ucap Gusti Ayu sambil membopong salah satu perawatnya yang baru selesai menangani pasien perempuan dan anaknya yang berstatus PDP yang terduga positif COVID-19 asal Desa Duman, Kecamatan Lingsar.

Kondisi serupa juga dikeluhkan Susila D, salah satu perawat di Puskesmas Narmada. Menurut dia, baju hazmat yang dimilikinya merupakan milik pribadi yang dibeli dari kantong pribadinya.

Menurut dia, hampir seluruh tenaga medis di semua puskesmas di Kabupaten Lombok Barat sama sekali tidak dibekali APD yang lengkap oleh pemda setempat. Oleh karena itu, pihaknya bersyukur atas adanya kepedulian dari Manageman Pojok NTB yang tergabung dalam relawan Peduli COVID-19 di NTB yang telah menyerahkan sejumlah bantuan alat pelindung diri (APD) dan masker untuk petugas medis di sejumlah puskemas di Pulau Lombok.

“Alhamdulillah, adanya bantuan baju hazmat ini, petugas laborotorium kami yang hanya satu orang bisa turun dengan nyaman untuk melakukan contact tracing. Karena memang, ada satu lagi pasien positif dari kluster Gowa yang terindikasi dari rapid test terindikasi positif di Desa Badrain,” ujarnya.

“Baju bantuan ini langsung kami pakai. Karena baju yang kami punya biasanya setelah kami menangani pasien langsung kami cuci dan jemur untuk bisa kami pergunakan lagi ke depannya,” ujar Susila.

Salah satu tenaga medis di Puskesmas Kediri, Badi Halqi mengaku, kendatii APD yang dimiliki sangat minim, namun pekerjaannya saat ini dianggapnya sebagai suatu ibadah. Sehingga ia bisa mengurus dan melayani pasien dengan senang hati, meski kadang terbersit rasa khawatir.

“Bawa santai saja, ya sudah tugasnya sebagai perawat kami harus terus berjuang sampai pasien ini satu per satu dinyatakan sembuh. Tetap dibawa bahagia saja,” kata dia.

Sama halnya Gusti Ayu Kartika dan Susila, perawat di Puskesmas Gunungsari, Lombok Barat Rochama juga mengaku bahwa tenaga medis di sana terpaksa menggunakan pakaian operasi lantaran tidak adanya stok baju hazmat (baju khusus untuk menangani pasien COVID-19).

Meski sama-sama steril, menurut dia, tidak seharusnya pakaian itu digunakan menangani pasien COVID-19. Bahkan untuk masker, di puskesmas tempat Rochama bekerja sudah mulai kehabisan stok. Sehingga terkadang masker itu ia lapis dengan tisu agar tidak mudah kotor.

Tak jarang pula ia membeli masker menggunakan uang pribadi untuk dipakainya selama bertugas.

“Berusaha sehemat mungkin (pakai masker dan baju APD), lebih menjaga supaya tidak cepat kotor jadi bisa dipakai lebih lama (dalam satu shift). Saya juga letakkan kain di dalam masker supaya bisa dipakai seharian,” ucap dia.

Kalau merasa stok masker di puskesmas sudah mulai mau habis, perawatnya berinisiatif membeli masker yang memang harganya sekarang mahal.

Dengan kondisi yang demikian, ia terus berusaha untuk tetap fit dan menjaga kesehatan di tengah lelahnya merawat pasien.

Selain itu, hampir seluruh perawat di puskesmas di Lombok Barat mengaku, meski dengan kondisi keterbatasan APD, namun mereka memastikan selalu rutin cuci tangan, menjaga APD-nya sebaik mungkin, hingga menjaga pola makan yang teratur.

“Ya sekarang bagaimana kami tetap fit. Jadi kalau kami ngurus orang sakit, ya yang ngurus juga harus sehat dong,” kata Rochama.

Ia berharap pemda setempat mengambil langkah cepat mengatasi penyebaran COVID-19 di TB, khususnya Kabupaten Lombok Barat. Ia juga meminta pemerintah memperhatikan kelengkapan APD di tiap puskesmas.

“Pemenuhan APD sangatlah penting karena sebagai salah satu antisipasi penularan pakai APD. Apalagi, di puskesmas kami sudah ada balita yang positif COVID-19, maka kerja kami harus ekstra tentunya,” katanya.

Diketahui, jumlah pasien yang dinyatakan positif COVID-19 di NTB hingga Minggu (12/4) sebanyak 37 orang. Rinciannya, empat orang sudah sembuh, dua meninggal dunia. Sementara 31 orang masih positif dirawat dan dalam keadaan baik.

Kemudian jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) ada 141 orang, dengan rincian 65 PDP masih dalam pengawasan. Sementara 76 PDP selesai pengawasan atau sembuh, 11 orang PDP meninggal.

Selanjutnya, untuk orang dalam pemantauan (ODP) jumlahnya 3.783 orang, terdiri dari 1.437 orang masih dalam pemantauan dan 2.346 orang selesai pemantauan.

Adapun jumlah orang tanpa gejala (OTG), yaitu orang yang kontak dengan pasien positif COVID-19 namun tanpa gejala, totalnya 7.357 orang. Jumlah tersebut terdiri dari 4.826 orang masih dalam pemantauan dan 2.531 orang selesai pemantauan. (Ant)